Anak Bujang


“Mama jam berapa sampai stasiun?” tanyamu lewat pesan WhatsApp. Antar jemput mama dari stasiun menjadi tugas tambahan anak bujang manakala papanya berhalangan.

“Mama mau diantar jalan kemana?” ujarmu di lain waktu ketika menyadari mamanya ingin rehat sejenak dari rutinitas.

“Ma, gimana kalo besok aku antar mama ke Tulungagung? Aku pingin jalan,” ucapmu sembari menyendok sepotong lauk.  Tanpa bisa menyembunyikan senyum lebar, kuiyakan tawaran istimewamu dengan segera.

Anak bujangku yang irit bicara tapi perlakuan manisnya sering membuatku terpana dan meleleh. Rasanya baru kemarin aku menungguinya di kompleks Taman Kanak-Kanak selama sepekan pertama masuk sekolah. Di tengah-tengah belajar, kepalanya sesekali melongok di jendela kelas lantai 2, memastikan mamanya masih ada. Dan sekarang dia sudah mahasiswa.

Masih terbayang kegalauanku ketika dia memilih mendaftar di Sekolah Dasar yang baru didirikan. Gedung masih menumpang, jumlah peserta didik tidak lebih dari hitungan jari tangan dan kaki. Nyatanya dukungan penuh diberikan papanya atas pilihan itu.

“Bertanggungjawab atas pilhan, Dek,” pesan papanya.

Tanggungjawab, itulah yang hendak diajarkan seorang papa pada anak lelakinya. Dalam ingatanku, semenjak kelas 3 SD, dia dibebani tanggung jawab untuk menyalakan lampu di rumah kala senja dan mematikannya saat subuh. Memastikan rumah dalam kondisi terkunci sebelum beranjak tidur juga menjadi tanggung jawabnya dan berlanjut hingga saat ini.

Hal lain yang aku banggakan darinya adalah pilihannya untuk hidup sehat. Dia tidak tergoda sama sekali dengan menjamurnya kafe dan tempat nongkrong yang menawarkan berbagai konsep di kota kami.

“Baru buka kafenya Dek. Ramainya. Nda tertarik Dek?” tanyaku ketika kami melewati sebuah kafe dalam perjalanan pulang dari stasiun.

“Ngapain Ma? Bau rokok. Enak di rumah, nonton sambil maem,” jawabmu.

Rutinitas olahraga sudah menjadi gaya hidupmu, salah satunya gowes mandiri ataupun bersama komunitas di akhir pekan. Jika cuaca tidak mendukung atau padatnya aktivitas, potongan barbel di sudut kamar menjadi pilihanmu di ujung senja. Sekitar 3 tahun terakhir, anak bujangku mulai melirik hiking di bukit atau gunung terdekat yang menawarkan pemandangan indah dan udara segar.

“Aku mau gowes ke Surabaya Ma,” ujarmu siang itu.

Karena mengira gowes bersama komunitas, aku santai saja menanggapinya. Namun, ketika tahu jika itu gowes mandiri, berdua saja dengan teman, panik langsung menyerbuku. Pertanyaan kapan, berapa jarak dan waktu tempuh, bagaimana persiapan dan keselamatan selama perjalanan, bagaimana antisipasi hal-hal tidak terduga, bagaimana solatnya, langsung memborbardirmu. Meskipun jawabanmu tepat dan persiapanmu cukup matang, namun mamamu ini tetap enggan mengiyakan. Dan hari itu sesuai rencana, jarak 180 km Malang-Surabaya PP terlampaui dengan aman, lancar, dan selamat. Alhamdulillah.

“Aku ke Gunung Butak ya Ma. Berangkat jam 3 dari rumah,” ucapmu beberapa waktu yang lalu.

Seketika, mode investigasiku menyala. Pertanyaan dengan template serupa langsung menyergapmu. Lagi-lagi kamu berhasil memberikan jawaban yang akurat.

Menularkan virus hiking ke kakak perempuan

Masih segar dalam ingatanku, bagaimana kamu ketika usia 5 tahun naik turun tangga ke kamarmu tanpa menginjak anak tangga. Kamu memilih untuk menapaki celah pegangan tangga, menggunakan pegangan tangga sebagai perosotan, bahkan melompati 4 anak tangga sekaligus. Ketika aku akan bereaksi melarangmu, papamu dengan sigap memberikan kode untuk tetap tenang.

Anak bujangku yang suka spontan berkomentar pendek, seringkali benar, tapi menggemaskan bagiku.

“Mama pusing Dek,” ujarku suatu ketika.

“Pingin ke pantai itu,” jawabmu tanpa ekspresi. Dan pecahlah tawaku saat itu juga.

“Mama pingin sehat sampai tua Dek,” ucapku di lain waktu.

“Konsisten olahraga,” sahutmu cepat. Padahal aku tipe yang olahraga sesuka hati.

“Perlengkapan olahraga mahal ya Dek,” kataku ketika kamu sedang menyiapkan peralatan untuk hiking esok hari.

“Daripada aku beli barang-barang lain yang nda jelas Ma,” balasmu dengan akurat. Dan aku hanya bisa tersenyum menanggapi.

Selamat merayakan bertambahnya usia ya Le. Teruslah bertumbuh, menaklukkan jarak, dan mewujudkan asa. Jadilah pribadi yang senantiasa bertanggung jawab dimanapun, kapanpun, bersama siapapun. 

Malang, 10 Agustus 2025

Post a Comment

0 Comments