Momentum Dies Maulidiyah ke-64 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi catatan penting dalam perjalanan panjang kampus yang dikenal dengan spirit Ulul Albab ini. Bertempat di Auditorium Rektorat pada Selasa, 28 Oktober 2025, acara puncak Dies berlangsung khidmat dan penuh makna dengan diselenggarakannya Rapat Terbuka Senat UIN Maliki Malang.
Hadir sebagai pembicara utama, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin
Amin, M.A., Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia sekaligus
Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI). Turut hadir pula para guru besar, pimpinan
universitas, para dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta unsur Dharma
Wanita Persatuan (DWP) UIN Malang yang turut menyemarakkan acara ini.
Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Ilfi Nur Diana, M.Si., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas perjalanan panjang kampus ini sejak berdirinya pada 28 Oktober 1961 sebagai Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel. Kini, enam dekade kemudian, UIN Malang telah berkembang pesat dengan 87 guru besar dan lebih dari 21.000 mahasiswa.
Beliau menekankan pentingnya rasa memiliki dari seluruh
sivitas akademika, termasuk keluarga besar kampus. “Dies Maulidiyah kali ini
kami undang pimpinan beserta pasangan, baik suami maupun istri, agar keluarga
besar UIN dapat turut merasakan kebersamaan dan berjuang bersama membangun
kampus ini,” ujar Rektor.
Acara ini juga menjadi ajang penting dengan diluncurkannya
dua program strategis: Launching Cash Waqf dan Launching Single Sign-On (SSO)
oleh Rektor bersama Ketua Badan Wakaf Indonesia. Program tersebut menjadi
bagian dari tahapan penting menuju visi besar UIN Malang sebagai universitas
Islam berkelas dunia yang berkarakter ulul albab.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Kamaruddin Amin menyampaikan
refleksi mendalam tentang posisi perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI) dalam
membentuk peradaban bangsa. Menurut beliau, negara maju selalu berbanding lurus
dengan mutu dan kontribusi perguruan tinggi yang dimilikinya.
“Perguruan tinggi bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi
juga pusat peradaban. Keberhasilan sebuah bangsa diukur dari bagaimana
perguruan tingginya mendidik generasi untuk menjadi manusia yang bermanfaat,”
tegasnya.
Beliau menyoroti bahwa karakteristik keberagamaan di
Indonesia sangat dipengaruhi oleh bagaimana agama diajarkan di lingkungan
perguruan tinggi Islam. Oleh karena itu, PTKI seperti UIN Malang memiliki
tanggung jawab strategis untuk menanamkan nilai moderasi, toleransi, dan
kemaslahatan publik.
Indonesia, lanjutnya, dikenal sebagai negara bangsa yang
moderat dan toleran. Kementerian Agama memberikan apresiasi kepada seluruh PTKI
yang telah berkontribusi besar bagi bangsa dan negara, termasuk UIN Malang yang
kini menjadi model pengembangan perguruan tinggi berbasis spiritualitas,
keilmuan, dan kemanusiaan.
“Saya berharap kontribusi UIN Malang dapat benar-benar
dirasakan oleh masyarakat. Perguruan tinggi keagamaan harus berdampak, harus
menghadirkan kemaslahatan bagi banyak orang,” ujarnya dengan penuh penekanan.
Prof. Kamaruddin mengingatkan bahwa pencapaian akademik,
profesionalisme, dan prestasi ilmiah tidak boleh berhenti pada aspek
administratif. Semua itu harus berkolerasi dengan kebutuhan masyarakat di
sekitar kampus.
Beliau menggambarkan kondisi sosial yang memprihatinkan di
sekitar kita: masih banyak anak-anak yang belum bisa membaca Al-Qur’an,
keluarga miskin, perceraian tinggi, dan ketahanan keluarga yang rapuh. Hal-hal
tersebut menjadi medan nyata bagi kontribusi kampus keagamaan.
“Fungsi kampus tidak hanya di ruang kelas. Kampus harus
aktif di luar, hadir di majelis taklim, membina masyarakat, memberikan ceramah,
dan menjadi pelopor perubahan sosial,” pesannya.
Cash Waqf sebagai Instrumen Keberlanjutan
Dalam konteks keberlanjutan, Prof. Kamaruddin memperkenalkan
konsep cash waqf sebagai salah satu instrumen penting bagi perguruan
tinggi modern. Hampir semua universitas besar di dunia, terutama di Amerika
Serikat, memiliki endowment fund atau dana abadi yang besar, yang menjadi
penopang utama keberlangsungan riset dan pelayanan pendidikan.
“Cash waqf adalah amal jariyah. Inilah warisan yang
akan terus hidup, bahkan setelah kita tiada,” jelasnya.
Beliau mengingatkan hadirin untuk selalu berpikir jangka
panjang dalam beramal dan berkarya. Jabatan dan posisi hanyalah sementara,
sedangkan manfaat yang terus mengalir adalah amal yang kekal.
“Hidup ini singkat, jabatan apalagi. Hari ini kita sehat,
esok mungkin kita sakit. Maka manfaatkanlah hidup kita dengan sebaik-baiknya.
Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain — khairukum
anfa‘uhum linnas,” tuturnya mengutip hadis Nabi.
Prof. Kamaruddin juga menegaskan bahwa semakin tinggi
jabatan dan capaian seseorang, semakin banyak pula tanggung jawab moral untuk
membantu orang lain. Ia mengajak seluruh civitas akademika untuk menyeimbangkan
aktivitas akademik dengan pelayanan sosial yang nyata.
“Kita boleh sibuk menulis artikel jurnal, tapi jangan lupa
bahwa masyarakat membutuhkan tulisan-tulisan reflektif sederhana yang mudah
dipahami dan menyejukkan. Itulah bentuk kontribusi yang tangible, nyata,”
pesannya menggugah.
Dalam bagian lain dari pidatonya, beliau menyoroti
pentingnya masjid sebagai pusat peradaban. Di Indonesia terdapat lebih dari 100.000
majelis taklim, namun sangat sedikit di antaranya yang diisi oleh dosen atau
guru besar.
“Saya berharap dosen UIN Malang rajin mengisi ceramah di
masjid. Masjid adalah tempat perjumpaan umat yang paling intensif dan strategis
untuk membangun kesadaran sosial-keagamaan,” ujarnya.
Menurut hasil penelitian, banyak entitas penting yang
seharusnya berperan di masjid justru belum hadir secara proporsional. Karena
itu, salah satu program prioritas Kementerian Agama melalui Asta Cita
Kemenag adalah pemberdayaan rumah ibadah.
Masjid diharapkan tidak hanya menjadi tempat ibadah ritual,
tetapi juga menjadi sentra pengembangan ekonomi umat, pusat pemberdayaan
masyarakat, dan ruang pembentukan karakter sosial yang kuat.
Dalam konteks ini, Prof. Kamaruddin menilai bahwa UIN Malang
dapat menjadi model nasional, tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga
dalam isu-isu ekonomi, sosial budaya, bahkan politik kebangsaan.
“UIN Malang bukan sekadar universitas, tapi sebuah
laboratorium sosial yang mampu memadukan ilmu, iman, dan amal,” tutupnya dengan
penuh semangat.
Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan kontribusi besar dalam perjalanan sejarah kampus, acara dilanjutkan dengan penganugerahan Maliki Award kepada para pendiri dan pelaku sejarah pengembangan UIN Malang, termasuk para rektor sejak 1997 serta dosen-dosen senior yang telah berjasa membangun reputasi dan identitas kampus.
Suasana haru dan kebanggaan menyelimuti auditorium ketika
nama-nama tokoh disebut satu per satu. Bagi UIN Malang, penghargaan ini bukan
sekadar seremoni, melainkan pengingat bahwa setiap capaian hari ini lahir dari
perjuangan panjang generasi sebelumnya.
Rapat Terbuka Senat Dies Maulidiyah ke-64 bukan hanya
perayaan, tetapi momentum refleksi dan peneguhan arah ke depan. Pesan yang
mengemuka dari seluruh rangkaian acara, terutama dari orasi Prof. Kamaruddin
Amin, adalah bahwa keberhasilan sejati perguruan tinggi diukur bukan dari
ranking semata, tetapi dari seberapa besar dampaknya terhadap kehidupan
masyarakat.
Melalui semangat Integratif, Inspiratif, Kontributif, dan
Globally Innovative, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang diharapkan terus
menjadi pionir dalam menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin —
menebar ilmu, menanam kebaikan, dan menumbuhkan manfaat bagi semesta.
Malang, 29 Oktober 2025




0 Comments