Perjalanan Memenuhi PanggilanMu

 Jam di dinding belum menunjukkan tepat pukul 20.00, tetiba suamiku bergegas dari ruang depan.

“Alhamdulillah, Ma. Visa Papa sudah terbit,” ujarmu dengan binar bahagia.

Sepekan terakhir, suamiku disibukkan dengan persiapan administratif untuk bisa melaksanakan ibadah haji bersama dua orang koleganya. Meskipun proses entri ke Aplikasi Nusuk sebagai platform digital untuk pelayanan ibadah haji dan umroh dilakukan secara bersamaan dengan koleganya, namun visa suamiku terbit 2 hari lebih lambat. Sepanjang masa penantian ini, rasanya campur aduk, ibarat kereta luncur, optimisme naik turun, apalagi 2 kolega suami sudah dalam perjalanan menuju tanah suci. Tapi kami meyakini, apapun hasil akhir, visa keluar atau tidak, adalah yang terbaik bagi kami.

Hanya ada waktu semalam untuk mempersiapkan keberangkatan ke tanah suci. Suami berburu tiket keberangkatan dan kepulangan. Anak bujang bergegas ke rumah neneknya untuk mengambil koper dan meminjam baju ihram cadangan. Aku sendiri mempersiapkan semua dokumen perjalanan, perlengkapan ibadah, baju ganti, perlengkapan kebersihan, dan obat-obatan. Di sela-sela persiapan, obrolan tentang manasik pun mengalir sembari membuka buku atau kitab rujukan jika ada hal yang masih diragukan.


Pelepasan keberangkatan oleh kolega suami

Senin pagi, hari kesepuluh di Bulan Juni, kami beranjak menuju bandara diiringi doa-doa kelancaran dan keselamatan dari beberapa kolega suami. Anak bujang yang biasanya siap siaga di kursi pengemudi, hari itu tidak turut serta melepas keberangkatan papanya karena agenda lain yang tidak bisa ditinggalkan. 45 menit berlalu dan sampailah kami di bandara.

Masih ada waktu beberapa saat sebelum keberangkatan. Perbincangan tentang manasik kembali bergulir di ruang tunggu bandara. Ibu yang tahun lalu menunaikan ibadah haji turut bergabung dalam obrolan kami.

Tamattu’ atau ifrad ya, Ma?” tanyamu meminta pendapat mengingat wukuf akan digelar dalam 5 hari ke depan.

FGD manasik di ruang tunggu bandara

Perbincangan berlanjut tentang apa saja yang harus dilakukan jika memilih salah satu opsi. Tak lama kemudian, kami terinterupsi dengan pemberitahuan agar semua penumpang segera boarding.

“Haji mabrur ya, Pa,” bisikku sesaat sebelum suami beranjak menuju pintu masuk.

Kurapal segala doa kebaikan mengiringi keberangkatanmu hingga bayanganmu menghilang di ujung eskalator. Bismillah, semoga semua berjalan lancar, aman, dan selamat selama perjalanan, sampai di tanah suci, dan ke rumah kembali.

“Alhamdulillah sudah mendarat di Jakarta. Ini sedang kumpul sama saudara-saudara.” ujarmu di ujung telepon 60 menit berikutnya.

Saudara dan kerabat suami dari Karawang sengaja datang ke bandara untuk melepas keberangkatannya ke tanah suci. Kehadiran kakak, adik, keponakan, dan cucu menjadi energi tambahan untuk melanjutkan perjalanan.

Petang menjelang, suami beranjak ke loket salah satu maskapai penerbangan internasional untuk melakukan lapor masuk (check in). Ujian untuk mengukur keteguhan hati kembali datang. Suamiku ditolak oleh petugas loket karena hari itu adalah batas akhir maskapai Em*r*t** melayani penerbangan haji. Pengajuan pengembalian dana (refund) segera dilakukan suami sembari berburu tiket dari maskapai lain. 120 menit berlalu hingga tiket pengganti sudah di tangan dengan harga 2 kali lipat. Alhamdulillah.

“Pa, vidcall ya,” ucapku manakala lelah dan penat tersirat lewat suaramu di ujung telpon. Tak lupa kutambahkan anak gadis yang sedang berada di benua terkecil di dunia dalam panggilan video. Mendengarkan, itu yang aku dan anak gadis lakukan.

“Semangat ya, Pa,” ujar anak gadis di akhir panggilan.

Ujian kembali datang di malam yang semakin larut. Proses lapor masuk di loket maskapai berjalan lancar. Ketika suami sampai di layanan pemeriksaan imigrasi sesuai antrian, petugas memintanya mundur dan memberikan kesempatan kepada antrian berikutnya sesaat setelah mencermati dokumen perjalanannya. Allahu Akbar, apalagi ini?

Maskapai penerbangan yang berbeda antara keberangkatan dan kepulangan menjadi salah satu alasan insiden pada pemeriksaan imigrasi. Setelah menunjukkan invois dari Nusuk, akhirnya petugas mengizinkan suami untuk melanjutkan perjalanan. Visa yang digunakan suami adalah visa mujamalah, undangan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Visa haji di luar kuota haji regular yang sudah diatur dalam Pasal 18 UU Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umroh. Visa mujamalah hanya akan diterbitkan jika calon jamaah haji sudah melakukan pembelian paket akomodasi haji melalui Aplikasi Nusuk, sehingga tidak ada potensi jamaah haji terlantar selama di tanah suci.

Menuju tanah suci

Satu notifikasi pesan masuk ketika jarum jam bertumpuk di angka 12 malam itu. Pesan singkat bahwa suami sudah di pesawat menuju tanah suci. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Perjalanan berliku dan berkelok berakhir dengan indah. Haji adalah panggilanNya. Sebagai tamu Allah, berbaik sangka kepada tuan rumah adalah keniscayaan. Ada banyak cerita dan pengalaman tentang bagaimana perjalanan tamu Allah memenuhi panggilanNya. Calon jamaah haji yang sudah ada di asrama haji harus terpisah dari kelompok terbangnya karena alasan kelengkapan dokumen atau alasan medis. Bahkan ada calon jamaah haji yang kopernya sudah dikirim ke Kantor Kelompok Bimbingan Ibadah Haji, gagal berangkat karena alasan kesehatan. Dalam kondisi apapun, berbaik sangka menjadi senjata ampuh dalam perjalanan memenuhi panggilanNya.

Selamat kepada semua jamaah haji yang sudah tuntas melaksanakan ibadah tahun ini. Selamat berkumpul kembali dengan keluarga dan semoga menjadi haji mabrur.

Malang, 30 Juni 2024

Post a Comment

0 Comments