Dari Dua Sepeda hingga Toga Wisuda

Ada masa ketika seorang ibu hanya perlu mendengar teriakan kecil dari teras untuk berlari. Hari ini, teriakan itu telah berubah menjadi kabar wisuda—dan seorang anak yang dulu menuntun dua sepeda kini siap menuntun hidupnya sendiri.

Ahad pagi itu, sebuah pesan masuk dari anak bujang yang sedang gowes bersama komunitasnya.

“Ma, minta tolong paket. Ditaruh pager.”

Sebuah paket berbentuk kotak dengan panjang sekitar 60 sentimeter kemudian kuamankan di atas meja. Agak berat. Aku menebak-nebak isinya. Kalau bukan perlengkapan gowes, mungkin perlengkapan laptop.

Menjelang tengah hari, si bungsu memasuki rumah. Masih dengan kaos gowes. Ia langsung bergegas membuka paket.

Benar saja. Sebuah penyangga layar monitor siap dirangkai.

“Habis ditransfer Kakak, hadiah wisuda,” ujarnya sambil memamerkan senyum lebar.

Aku ikut tersenyum. Namun entah mengapa, di balik senyum itu ada rasa haru yang perlahan memenuhi dada. Bukan semata karena sebuah hadiah.

Melainkan karena aku melihat kasih sayang dua anak yang tetap tumbuh, meskipun kini mereka menjalani kehidupan masing-masing dan terpisah jarak. Mereka sudah bukan lagi dua anak kecil yang bermain sepeda di sekitar kompleks. Tetapi rupanya, jarak tidak selalu membuat saudara menjadi jauh.

Ada perhatian yang tetap menemukan jalannya. Ada kasih sayang yang tidak membutuhkan banyak kata. Dan kami, sebagai Mama dan Papa, hanya bisa berdoa:

Tetap rukun, anak-anak Mama dan Papa. Saling menjaga, saling menguatkan, sampai kapan pun.


“Maaaaa, Kakak Jatuh!”

Tiba-tiba ingatanku melompat ke bertahun-tahun silam. Saat mereka masih kanak-kanak.

Suatu hari, keduanya pamit bersepeda di sekitar kompleks perumahan. Beberapa saat kemudian terdengar suara dari teras.

“Maaaaa, Kakak jatuh!”

Aku langsung bergegas menuju pintu. Kakaknya terlihat meringis menahan sakit. Lututnya terluka cukup parah. Luka menganga dan tampaknya membutuhkan jahitan.

Segera kubersihkan luka itu. Sementara tanganku sibuk menangani luka sang kakak, si kecil mulai bercerita.

“Kakak tadi jatuh, lututnya luka, tapi nda keluar darah. Aku nuntun dua sepeda, sepedaku sama sepeda Kakak.”

Aku terdiam. Anak kecil itu menuntun dua sepeda. Sepedanya sendiri dan sepeda kakaknya.

Sebuah adegan sederhana yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa. Tetapi bagi seorang ibu, adegan seperti itu bisa tinggal bertahun-tahun di dalam ingatan.

Kini aku baru menyadari. Kasih sayang antar saudara sering kali tidak hadir dalam kalimat “Aku sayang Kakak.”

Kadang ia hadir dalam tindakan sederhana. Ketika kakaknya jatuh, ia memilih untuk tidak meninggalkan.


Anak Dua Bulan yang Harus Kutinggalkan

Ada bagian lain dari perjalanan si bungsu yang juga tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan. Usianya baru dua bulan ketika aku harus meninggalkannya di rumah bersama Papa dan Neneknya.

Allah menakdirkan ku diterima bekerja di tempat yang berjarak dari keluarga. Maka hari-hari ku jalani dengan jarak.

Dan akhir pekan menjadi waktu yang sangat berharga. Waktu untuk pulang. Untuk melihat wajahnya. Untuk memeluknya. Untuk menebus rindu yang terkumpul sepanjang hari-hari kerja.

Sebagai ibu, tentu ada rasa bersalah. Ada pertanyaan yang sesekali muncul:

Apakah anak ini akan tetap dekat denganku? Apakah ia akan mengerti mengapa Mamanya harus pergi?

Namun Allah rupanya memiliki cara sendiri untuk menjaga sebuah ikatan. Anak itu tumbuh. Dan hubungan kami tetap menemukan jalannya.


“Tunggu Ya, Ma…”

Masa TK pun datang. Salah satu kalimat yang masih saya ingat sampai sekarang:

“Tunggu ya, Ma, aku main prosotan dua kali lagi.”

Dua jari kecilnya teracung. Dua kali lagi. Aku menunggu.

Dulu ku kira dua kali prosotan hanyalah dua kali prosotan. Sekarang aku menyadari, masa kanak-kanak memang seperti itu. Kita pikir masih punya banyak waktu. Padahal ia sedang berlari. 

Hari ini mereka meminta kita menunggu dua kali prosotan. Besok mereka meminta ditemani belajar. Lusa mulai memilih sekolah. Kemudian kuliah.

Lalu tiba-tiba…mereka sudah mengenakan toga.


“Tanggung Jawab dengan Pilihan, Dek”

Saat masuk SD, si bungsu membuat pilihan yang sempat membuatku galau. Ia memilih sekolah baru yang dibentuk dari TK sebelumnya. Angkatan pertama. Peserta didiknya hanya 18 orang, mayoritas alumni TK. Tenaga pengajarnya empat orang.

Sebagai ibu, tentu aku khawatir.

“Duuh, anak ganteng, Mamamu ini galau dengan pilihanmu.”

Tetapi Papanya justru menjadi pendukung utama. Pesannya sederhana:

“Tanggung jawab dengan pilihan, Dek.”

Kalimat pendek itu rupanya menjadi salah satu bekal penting dalam perjalanan hidupnya. Memilih memang mudah. Tetapi bertanggung jawab atas pilihan adalah perkara yang berbeda. Dan hari ini, ketika melihatnya menuntaskan pendidikan sarjana, aku kembali teringat pesan itu.


Belajar Sambil Kaki di Atas

Gaya belajarnya pun unik. Semua koleksi mobil Hot Wheels akan ditata berbaris di atas kasur. Aku atau pendamping belajarnya membacakan materi pelajaran.

Sementara si bungsu?

Kadang memanjat jendela. Kadang kaki di atas, kepala di bawah. Pokoknya tingkah polahnya jangan ditanya. Kami hanya meneruskan membaca. Sampai tiba sesi tanya jawab. Dan ternyata ia bisa menjawab dengan lancar.

Dari sana aku belajar: anak tidak selalu harus belajar dengan cara yang sama seperti yang kita bayangkan. Setiap anak memiliki dunianya sendiri. Cara berpikirnya sendiri. Cara memahami sesuatu dengan caranya sendiri.

Tugas orang tua bukan memaksa mereka menjadi seperti kita. Tetapi mendampingi mereka menemukan versi terbaik dirinya.


Dan Hari Itu Akhirnya Tiba

Sepekan lalu, si bungsu resmi menuntaskan pendidikan sarjana. Satu fase selesai. Aku melihatnya bukan lagi sebagai anak kecil yang berlari-lari di rumah. Bukan lagi bocah yang meminta tambahan dua kali prosotan. Bukan lagi anak kecil yang menata Hot Wheels di atas kasur. Bukan pula bocah yang berteriak,

“Maaaaa, Kakak jatuh!”

Ia telah tumbuh. Dan mungkin inilah salah satu paradoks menjadi orang tua: kita bekerja keras membesarkan anak agar suatu hari mereka mampu berjalan sendiri—lalu ketika mereka benar-benar mampu berjalan sendiri, hati kita justru belajar bagaimana cara melepaskan.

Wisuda anak bukan hanya tentang toga. Bukan sekadar ijazah. Bukan sekadar gelar sarjana.

Bagi seorang ibu, wisuda adalah perjalanan panjang yang tiba-tiba diputar kembali dalam kepala. Dari tangisan bayi. Pelukan. Sekolah. Luka di lutut. Dua sepeda. Dua kali prosotan. Deretan Hot Wheels. Pilihan sekolah. Ujian. Kegagalan. Keberhasilan. Dan akhirnya toga.

Semua terasa seperti terjadi kemarin. Padahal waktu telah membawa anak itu begitu jauh.


Selamat, Le…

Selamat ya, Le. Selamat atas pencapaian ini. Semoga Allah mudahkan perjalananmu selanjutnya. Semoga Allah berkahi segala harapan dan cita-citamu.

Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab. Tetap sayang dan perhatian kepada keluarga. Tetap rendah hati ketika berhasil. Tetap kuat ketika menghadapi kesulitan. Dan tetap menjadi pribadi yang bersedia menolong orang lain ketika mereka sedang jatuh.

Sebab Mama selalu ingat: dulu, ketika Kakak jatuh, kamu menuntun dua sepeda.

Semoga dalam perjalanan hidupmu kelak, kamu juga menjadi laki-laki yang tidak hanya mampu berjalan sendiri, tetapi juga bersedia menggandeng dan menuntun orang-orang yang kamu sayangi.

Dan untuk Mama, mungkin inilah makna terdalam dari perjalanan itu. Dari dua sepeda hingga toga wisuda. Dari seorang anak kecil yang dulu perlu dituntun…hingga seorang anak dewasa yang kini siap menentukan jalannya sendiri.

Selamat menempuh perjalanan baru, Le. Pergilah sejauh cita-citamu. Tumbuh lah setinggi harapanmu. Tetapi ingatlah satu hal:

sejauh apa pun langkahmu nanti, selalu ada rumah yang menunggumu pulang dan doa Mama-Papa yang mengiringi setiap langkahmu.

Malang, 14 September 2026


Post a Comment

0 Comments