"Ma, aku mau njajan. Mama mau?"
Kalimat itu terdengar sederhana. Bahkan mungkin terlalu biasa untuk dianggap istimewa. Namun, entah sejak kapan, pertanyaan itu menjadi salah satu cara paling tulus seorang anak mengatakan, "Mama, aku ingat padamu."
Setiap kali hendak mampir ke minimarket, ia selalu bertanya, "Ma, mau nitip?" Bukan karena diminta, bukan pula karena kewajiban. Ia hanya terbiasa memastikan bahwa Mamanya tidak tertinggal dalam setiap langkah kecilnya.
Lalu ada kebiasaan lain yang tak kalah menggemaskan.
"Dek, jalan yuk."
"Ayo mbakso, Dek."
"Antar Mama yuk, Dek."
Dan hampir selalu, ia mengangguk. Sepertinya, sejak lama ia dipaksa memahami bahwa menjadi anak laki-laki di rumah ini berarti harus siap menghadapi kerandoman Mama dan kakak perempuannya.
Ketika skin care Mama habis, Papanya bahkan mungkin tidak tahu mereknya. Tetapi anak bujang ini justru bertanya dengan santai,
"Yang apa, Ma?"
Beberapa detik kemudian, jemarinya sudah sibuk menelusuri platform belanja daring, membandingkan harga, memastikan produk yang dipesan benar. Entah sejak kapan ia tumbuh menjadi anak yang mengerti hal-hal kecil yang bahkan tidak pernah diminta untuk dipelajari.
Lalu datanglah hari yang paling melelahkan bagi keluarga kami: pernikahan kakaknya.
Di balik senyum para tamu, bunga-bunga yang indah, dan dekorasi yang memukau, ada satu sosok yang nyaris tak pernah berhenti bergerak.
"Dek, data tamu dan panitia sudah final?"
"Dek, keluarga yang menginap bagaimana?"
"Dek, tamu keluarga saat akad tanggung jawab Dedek ya."
Dan ia selalu menjawab, "Siap."
Sebelum hari H, saat hari H, bahkan setelah semua tamu pulang, ia menjadi panitia inti yang tak pernah meminta panggung.
Yang paling membuat hatiku sesak justru terjadi ketika kakaknya duduk di pelaminan. Bukan berdiri di samping untuk berfoto. Bukan menikmati pesta. Melainkan duduk di bawah pelaminan hampir sepanjang acara. Mengawasi. Menunggu. Memastikan kakaknya tidak kekurangan apa pun. Memenuhi setiap permintaan sebelum sempat diucapkan.
Tidak banyak orang melihatnya. Tetapi seorang ibu selalu melihat. Dan seorang ibu selalu mengingat.
Ketika semua selesai dan rumah kembali sunyi, ia datang sambil tersenyum ringan.
"Sudah ya, Ma. Tugasku selesai. Mau fokus skripsian."
Sesederhana itu. Tanpa merasa telah melakukan sesuatu yang besar. Padahal, ia baru saja menjadi penyangga bagi begitu banyak hal yang nyaris tak terlihat.
Barangkali begitulah cinta bekerja. Ia tidak selalu hadir dalam kalimat-kalimat besar. Kadang ia datang dalam pertanyaan, "Mama mau nitip?"
Dalam ajakan makan bakso. Dalam kesediaan mengantar ke mana saja. Dalam kesabaran menghadapi dua perempuan yang sesekali sama-sama "tantrum." Dalam diam, ia sedang menunjukkan bahwa laki-laki yang baik bukanlah mereka yang pandai berkata-kata, melainkan yang ringan mengambil peran ketika keluarga membutuhkannya.
Terima kasih, Le.
Terima kasih karena telah tumbuh menjadi anak yang hangat, perhatian, dan selalu hadir tanpa banyak diminta.
Teruslah menjadi pribadi yang rendah hati dan penyayang.
Semoga Allah selalu menjagamu, melapangkan setiap langkahmu, menguatkan ikhtiarmu, dan mengantarkanmu pada cita-cita terbaik yang telah kau impikan.
Sebab kelak, ketika orang bertanya seperti apa anak laki-laki yang berbakti itu, mungkin aku tidak perlu menjawab panjang.
Aku hanya akan tersenyum, lalu berkata,
"Ia adalah anak yang tidak pernah lupa bertanya, 'Ma, mau nitip?'"
Malang, 27 Juli 2026
.jpeg)


.jpeg)
0 Comments