Anak Tangguh Lahir dari Keluarga yang Hadir

Satu pertanyaan besar menghantui banyak orang tua hari ini: apakah anak-anak kita sedang kita siapkan untuk menghadapi kehidupan, atau justru kita sedang membangun generasi yang mudah menyerah ketika berhadapan dengan tantangan?

Di tengah derasnya arus informasi, berita tentang anak-anak yang kehilangan harapan, kasus perundungan, krisis moral, hingga fenomena bunuh diri yang berulang kali muncul di media massa dan media sosial, kita seperti diingatkan kembali bahwa membesarkan anak bukan sekadar memastikan mereka tumbuh besar secara fisik. Ada tanggung jawab yang jauh lebih besar: memastikan mereka tumbuh menjadi manusia yang kuat secara jiwa, matang secara emosi, kokoh secara spiritual, dan memiliki arah hidup yang jelas.

Beberapa hari lalu, dalam kegiatan parenting bersama Dr. Elok Halimatus Sa’diyah, S.Psi., M.Si., akademisi sekaligus pakar psikologi perkembangan, sebuah pesan penting kembali ditegaskan melalui tema “Penguatan Keluarga melalui Parenting Islami dalam Membentuk Generasi Tangguh.” Keluarga bukan hanya tempat anak dilahirkan, tetapi tempat pertama yang menentukan apakah mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh atau menjadi generasi yang rapuh.

Allah telah mengingatkan orang tua agar tidak meninggalkan generasi yang lemah. Dalam QS. An-Nisa ayat 9, Allah berpesan agar manusia takut apabila meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, sehingga mereka diperintahkan untuk bertakwa dan berkata benar. Pesan ini bukan hanya tentang kelemahan ekonomi, tetapi juga kelemahan karakter, mental, iman, dan kemampuan menghadapi kehidupan.

Karena itu, tugas orang tua bukan hanya melahirkan anak yang pintar, tetapi menghadirkan generasi yang tangguh. Bukan anak tanggung. Bukan anak yang rapuh dan lumpuh.

Generasi tangguh adalah generasi yang memiliki kemampuan untuk bangkit ketika jatuh, bertahan ketika menghadapi tekanan, serta mampu beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan nilai moral dan prinsip hidup.

Hari ini, kita sering mendengar istilah “generasi strawberry”—generasi yang tampak menarik, kreatif, dan memiliki banyak potensi, tetapi dianggap mudah hancur ketika mendapat tekanan. Label tersebut tentu tidak boleh menjadi vonis. Justru menjadi pengingat bagi orang tua bahwa ketangguhan tidak muncul dengan sendirinya. Ia harus ditanamkan melalui pola asuh yang tepat.

Menariknya, sering kali generasi sebelumnya—Generasi X maupun generasi milenial—mengeluhkan generasi Z yang dianggap mudah mengeluh, kurang tahan banting, atau terlalu sensitif. Namun pertanyaannya adalah: apakah kita hanya ingin menyalahkan generasi muda, atau mau mengevaluasi bagaimana mereka dibentuk?

Anak lahir membawa fitrah. Setiap anak memiliki kecenderungan mencintai kebaikan dan memiliki potensi mengenal Allah. Yang kemudian membentuk perjalanan hidup mereka adalah lingkungan, terutama keluarga. Anak yang kehilangan arah sering kali bukan karena kehilangan potensi kebaikan, tetapi karena kurang mendapatkan pendampingan yang sesuai dengan fitrahnya.

Dalam perspektif Islam, tujuan besar pendidikan keluarga adalah menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Pendidikan bukan hanya tentang prestasi akademik, tetapi tentang membangun manusia seutuhnya. Generasi tangguh adalah generasi yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.

Kecerdasan intelektual membuat anak mampu berpikir. Kecerdasan emosional membuat mereka mampu memahami diri dan orang lain. Sedangkan kecerdasan spiritual membuat mereka memiliki hubungan yang kuat dengan Allah, sehingga setiap langkah hidupnya memiliki nilai dan tujuan.

Namun, membangun generasi tangguh membutuhkan kehadiran orang tua. Salah satu persoalan besar saat ini adalah hadirnya anak-anak yang mengalami father hunger—kerinduan terhadap sosok ayah yang hadir, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara emosional. Ada pula fenomena daddy issues, ketika sosok ayah justru menghadirkan luka karena pola komunikasi yang buruk, sikap toxic, bahkan kekerasan.

Anak tidak hanya membutuhkan rumah. Anak membutuhkan rasa aman.Anak membutuhkan orang tua yang mau mendengar, memeluk, mengarahkan, dan menjadi teladan.

Sebab keluarga adalah sekolah pertama. Apa yang anak lihat di rumah akan menjadi pelajaran yang paling kuat dalam kehidupannya. Jika anak melihat kasih sayang, ia belajar mencintai. Jika anak melihat penghormatan, ia belajar menghargai. Jika anak melihat tanggung jawab, ia belajar menjadi manusia yang bertanggung jawab.

Dalam parenting Islami, pengasuhan anak laki-laki dan perempuan memiliki perhatian yang berbeda. Anak laki-laki perlu diarahkan untuk memahami konsep qawwam, bukan sebagai bentuk dominasi, tetapi tanggung jawab untuk menjadi pelindung, pemberi nafkah, pembimbing, dan sosok yang penuh kasih sayang serta keadilan.

Sedangkan anak perempuan perlu dipersiapkan menjadi perempuan yang memiliki kehormatan, kepribadian kuat, dan kontribusi besar bagi keluarga serta umat. Ia dididik untuk menjaga diri, menjadi calon ibu, calon pendamping kehidupan, sekaligus pembangun peradaban.

Maka pesan sederhana namun dalam adalah: “Jadilah perempuan yang mahal.” 

Bukan mahal karena materi, bukan mahal karena status, tetapi mahal karena nilai diri, ilmu, akhlak, kehormatan, dan keteguhan prinsip. Sebab perempuan yang berkualitas akan melahirkan generasi berkualitas.

Begitu pula keluarga yang baik akan melahirkan masyarakat yang baik. Namun membangun keluarga tangguh bukan perkara mudah. Banyak kesalahan yang tanpa sadar dilakukan orang tua: kemarahan berlebihan, komunikasi yang kurang efektif, membandingkan anak dengan anak lain, mengabaikan pendidikan spiritual, kurang memberikan keteladanan, atau terlalu protektif hingga anak tidak belajar menghadapi kehidupan.

Karena itu, menjadi orang tua juga berarti menjadi pembelajar sepanjang hayat. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki pola asuh. Tidak ada kata terlambat untuk kembali hadir bagi anak. Sebab anak-anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang mau terus belajar, memperbaiki diri, dan berjalan bersama mereka.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah:

“Anak seperti apa yang ingin kita miliki?”

Tetapi:

“Orang tua seperti apa yang perlu kita wujudkan agar mampu melahirkan generasi yang Allah titipkan kepada kita?”

Karena amanah terbesar orang tua bukan hanya meninggalkan harta, jabatan, atau nama besar. Amanah terbesar adalah meninggalkan generasi yang kuat. Generasi yang memiliki iman ketika diuji. Generasi yang memiliki akhlak ketika berkuasa. Generasi yang memiliki keberanian ketika menghadapi tantangan. Generasi yang bukan hanya mampu bertahan hidup, tetapi mampu membawa kebaikan bagi kehidupan. Sebab anak adalah masa depan yang sedang dititipkan Allah kepada kita hari ini.


Fakultas Psikologi Kampus 3 UIN Maliki, 8 Juli 2026


Post a Comment

0 Comments