"Satu video berdurasi tiga puluh detik mampu mengubah cara seseorang memandang pernikahan. Bayangkan apa yang terjadi setelah ribuan video ditonton setiap hari."
Dahulu, pelajaran tentang pernikahan diperoleh dari ruang keluarga. Seorang anak belajar bagaimana ayah menghormati ibunya. Seorang remaja menyaksikan bagaimana ibunya menjaga keharmonisan rumah tangga. Nasihat para ulama, kisah para nabi, pengalaman orang tua, dan tradisi masyarakat menjadi "kurikulum" yang membentuk cara seseorang memahami makna berkeluarga.
Hari ini, kurikulum itu berubah. Guru baru itu bernama algoritma.
Sebelum tidur, jutaan anak muda menggulir layar TikTok. Mereka menyaksikan pasangan yang saling menggoda dengan penuh kemesraan, suami yang membelikan mobil mewah untuk istrinya, istri yang selalu tampil sempurna, keluarga yang tampak harmonis tanpa cela, hingga video singkat yang mengajarkan "tips memilih pasangan ideal".
Semua tampak begitu nyata. Padahal, yang mereka lihat sering kali hanyalah potongan kehidupan yang telah dipilih, dipoles, diedit, dan disusun agar menarik perhatian. Ironisnya, algoritma tidak pernah bertanya apakah suatu konten benar, sehat, atau sesuai nilai agama. Algoritma hanya mengenali satu ukuran: apakah video itu mampu membuat orang berhenti menggulir layar?
Di sinilah pertanyaan besar muncul. Ketika Generasi Z membangun impian tentang pernikahan, siapa sebenarnya yang sedang membentuk cara berpikir mereka? Al-Qur'an dan Sunnah, atau justru algoritma media sosial?
Penelitian mengenai bagaimana Generasi Z Muslim menegosiasikan nilai-nilai pernikahan Islam di TikTok memberikan gambaran yang menarik sekaligus menggelisahkan. TikTok ternyata bukan lagi sekadar ruang hiburan. Ia telah menjelma menjadi ruang belajar, ruang diskusi, bahkan ruang tafsir baru mengenai relasi suami-istri, cinta, nafkah, kesetaraan, hingga makna kebahagiaan keluarga.
Fenomena ini tidak sepenuhnya buruk. Media sosial membuka akses ilmu yang sebelumnya sulit dijangkau. Ceramah ulama, diskusi psikologi keluarga, edukasi tentang komunikasi pasangan, hingga pengalaman rumah tangga dari berbagai negara kini dapat dinikmati hanya melalui telepon genggam.
Namun, kemudahan akses informasi tidak selalu berarti kemudahan memperoleh kebenaran. Justru di tengah banjir informasi, batas antara ilmu, opini, hiburan, dan sensasi menjadi semakin kabur.
Dalam perspektif maqāṣid al-usrah, tujuan utama pernikahan bukanlah sekadar hidup bersama. Pernikahan bertujuan menghadirkan sakinah, menumbuhkan mawaddah wa rahmah, menjaga martabat manusia, melindungi keluarga dari berbagai bentuk kemudaratan, serta menciptakan keadilan di antara suami dan istri.
Nilai-nilai tersebut membutuhkan proses. Kasih sayang lahir melalui kesabaran. Kepercayaan tumbuh melalui konsistensi. Keadilan hadir melalui dialog. Rumah tangga dibangun melalui perjalanan panjang yang tidak pernah selesai hanya dalam satu unggahan video.
Sebaliknya, algoritma bekerja dengan cara yang berbeda. Ia menyukai sesuatu yang cepat. Ia menyukai sesuatu yang dramatis. Ia menyukai sesuatu yang ekstrem. Konten yang paling banyak memperoleh perhatian sering kali bukan yang paling bijaksana, melainkan yang paling emosional.
Akibatnya, Generasi Z tidak hanya mengonsumsi informasi tentang pernikahan. Mereka juga mengonsumsi standar baru tentang bagaimana pernikahan "seharusnya" terlihat. Sedikit demi sedikit, ukuran kebahagiaan mulai bergeser. Bukan lagi seberapa damai rumah tangga dijalani. Melainkan seberapa indah rumah itu terlihat di media sosial. Bukan lagi seberapa tulus pasangan saling mencintai. Melainkan seberapa romantis hubungan itu tampak di depan kamera.
Inilah paradoks kehidupan digital. Semakin banyak orang memperlihatkan kebahagiaan, semakin banyak pula orang lain merasa kehidupannya kurang bahagia.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa banyak anak muda memandang TikTok sebagai referensi penting dalam memahami relasi suami-istri. Mereka belajar mengenai komunikasi, pembagian peran, pengelolaan konflik, hingga pengasuhan anak melalui pengalaman orang lain yang dibagikan secara daring.
Hal ini menunjukkan perubahan besar dalam cara pengetahuan diwariskan. Jika dahulu otoritas berada pada keluarga, guru, atau ulama, kini otoritas itu semakin tersebar kepada para kreator konten yang bahkan tidak selalu memiliki kompetensi keilmuan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, media sosial sering kali membentuk ekspektasi yang sulit dicapai. Suami ideal digambarkan selalu romantis. Istri ideal selalu cantik dan sabar. Rumah tangga ideal selalu harmonis. Anak-anak selalu tersenyum.
Padahal kehidupan nyata tidak pernah sesempurna itu. Tidak ada kamera yang merekam air mata setelah pertengkaran. Tidak ada filter yang mampu menyembunyikan rasa lelah mencari nafkah. Tidak ada musik latar yang menemani pasangan ketika menghadapi tagihan yang menumpuk atau anak yang sedang sakit.
Realitas selalu lebih rumit daripada konten. Persoalan lain yang muncul adalah bergesernya makna nafkah. Islam memandang nafkah sebagai tanggung jawab yang dijalankan sesuai kemampuan dan dilandasi keikhlasan.
Namun media sosial sering mengubahnya menjadi simbol status sosial. Semakin mahal hadiah yang diberikan, semakin dianggap mencintai. Semakin mewah gaya hidup pasangan, semakin dipersepsikan berhasil. Tanpa disadari, ukuran keberhasilan rumah tangga berubah dari keberkahan menuju kemewahan. Yang dicari bukan lagi ridha Allah. Melainkan validasi publik.
Tidak kalah penting adalah persoalan keadilan. Di TikTok, perdebatan mengenai relasi laki-laki dan perempuan berlangsung hampir setiap hari. Ada yang memperjuangkan kesetaraan secara konstruktif, tetapi tidak sedikit pula yang justru mempertajam polarisasi.
Laki-laki dianggap selalu salah. Perempuan dianggap selalu menuntut. Hubungan suami-istri dipersepsikan sebagai arena kompetisi, bukan kerja sama. Padahal Islam tidak pernah membangun keluarga di atas logika persaingan.
Al-Qur'an menggunakan istilah libās—pakaian—untuk menggambarkan relasi suami dan istri. Pakaian tidak saling mengalahkan. Pakaian saling melindungi. Pakaian menutupi kekurangan. Pakaian memberikan kenyamanan.
Metafora ini terasa semakin relevan di tengah budaya digital yang justru gemar membuka aib pasangan demi memperoleh jutaan penonton. Lebih jauh lagi, penelitian ini mengingatkan bahwa tujuan syariat dalam keluarga adalah ḥimāyah min al-ḍarar, yakni melindungi setiap anggota keluarga dari berbagai bentuk bahaya, baik fisik, psikologis, ekonomi, maupun spiritual.
Artinya, kesabaran tidak boleh dimaknai sebagai pembenaran terhadap kekerasan. Ketaatan tidak boleh dimaknai sebagai hilangnya martabat. Cinta tidak boleh berubah menjadi alasan untuk membenarkan hubungan yang merusak. Di titik inilah literasi digital menjadi bagian dari literasi keagamaan.
Menjadi Muslim di era digital tidak cukup hanya mampu menggunakan media sosial. Kita juga harus mampu menyaring nilai. Tidak semua yang viral layak ditiru. Tidak semua yang banyak disukai mencerminkan kebenaran. Tidak semua yang indah di layar membawa keberkahan dalam kehidupan nyata.
Barangkali tantangan terbesar Generasi Z bukanlah menemukan pasangan hidup. Melainkan menemukan kompas moral di tengah banjir algoritma. Sebab algoritma tidak memiliki hati. Ia tidak mengenal kasih sayang. Ia tidak memahami maqāṣid. Ia tidak peduli apakah sebuah keluarga menjadi lebih harmonis atau justru semakin rapuh. Algoritma hanya bekerja untuk mempertahankan perhatian kita selama mungkin.
Karena itu, tugas keluarga, lembaga pendidikan, para ulama, akademisi, dan para kreator konten Muslim menjadi semakin penting. Mereka harus hadir mengisi ruang digital dengan narasi yang tidak hanya menarik, tetapi juga mencerahkan. Dakwah keluarga tidak cukup disampaikan di mimbar. Ia juga harus hidup di ruang-ruang digital tempat generasi muda mencari jawaban atas kegelisahan mereka.
Pada akhirnya, teknologi bukanlah musuh. TikTok bukanlah lawan. Yang harus kita waspadai adalah ketika algoritma diam-diam mengambil alih peran hati nurani.
Pernikahan tidak dibangun oleh jumlah pengikut. Rumah tangga tidak diukur dari banyaknya tanda suka. Kasih sayang tidak dapat dihitung melalui jumlah tayangan. Dan kebahagiaan tidak pernah bergantung pada seberapa sempurna hidup kita terlihat di layar.
Di tengah dunia yang semakin dipenuhi kecerdasan buatan, algoritma, dan realitas digital, mungkin pertanyaan terpenting bagi setiap Muslim bukan lagi, "Konten apa yang sedang kita tonton hari ini?"
Melainkan,
"Nilai apa yang sedang diam-diam membentuk cara kita mencintai, memilih pasangan, membangun keluarga, dan mewariskan masa depan kepada anak-anak kita?"
Karena pada akhirnya, kita tidak sedang membangun keluarga untuk menjadi viral. Kita sedang membangun keluarga untuk menjadi jalan menuju ridha Allah.
Malang, 10 Juli 2026

0 Comments