Ayah Masih Berjalan di Depan Kami

 “Semoga keluarga yang sakit segera diberikan kesembuhan. Keluarga yang menunggu diberikan kekuatan dan ketabahan. Para dokter dan tenaga medis diberikan petunjuk oleh Allah dalam menangani pasien.”

Doa itu dilantunkan imam usai Salat Maghrib berjamaah di Masjid Assyifa. Sebuah doa yang sebenarnya sederhana. Kalimat-kalimat yang mungkin sering kita dengar dalam banyak kesempatan. Namun ketika doa itu menggema dari dalam masjid yang berada di lingkungan rumah sakit, rasanya berbeda. Setiap kata terasa lebih dekat. Setiap kalimat terasa lebih hidup.

Di tempat seperti itu, doa bukan lagi sekadar rangkaian harapan yang diucapkan. Ia menjelma menjadi kebutuhan. Menjadi pegangan. Menjadi sesuatu yang benar-benar diharapkan oleh mereka yang sedang berjuang melawan sakit, oleh keluarga yang sedang menunggu dengan cemas, dan oleh tenaga medis yang mengabdikan dirinya untuk membantu sesama.

Rumah sakit memang selalu menjadi tempat yang penuh makna. Tempat yang mengajarkan banyak hal yang sering terlupakan dalam rutinitas kehidupan sehari-hari. Tempat yang mengingatkan manusia tentang betapa berharganya kesehatan.

Di luar sana, kita sering menganggap sehat sebagai sesuatu yang biasa. Bangun pagi, berjalan ke dapur, menghirup udara segar, mendengar suara orang-orang yang kita cintai, membaca pesan di layar ponsel, menyetir kendaraan, bekerja, mengajar, berdiskusi, bercanda, bahkan sekadar berjalan tanpa rasa nyeri.

Semua terasa begitu biasa. Padahal tidak. Menghirup oksigen tanpa alat bantu adalah nikmat. Melangkahkan kaki tanpa beban adalah nikmat. Menggunakan pancaindra tanpa hambatan adalah nikmat. Dapat tidur tanpa rasa sakit adalah nikmat. Dapat bangun pagi dengan tubuh yang masih mampu menjalankan aktivitas adalah nikmat.

Dan sering kali kita baru benar-benar menyadari nilai nikmat itu ketika berada di tempat-tempat seperti rumah sakit. Di tempat di mana sebagian orang sedang berjuang agar dapat bernapas lebih lega. Di tempat di mana sebagian orang berharap bisa berjalan kembali seperti semula. Di tempat di mana sebagian keluarga menggantungkan harapan pada hasil pemeriksaan laboratorium, tindakan operasi, atau perkembangan kondisi orang yang mereka cintai.

Saat berada di sana, ayat yang selama ini begitu akrab terdengar kembali mengetuk kesadaran:

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Ayat yang berulang dalam Surah Ar-Rahman itu terasa memiliki gema yang berbeda ketika kita menyaksikan langsung bagaimana kesehatan merupakan karunia yang tidak ternilai.

Dua pekan sebelumnya, Ibu mengirimkan sebuah pesan yang diteruskan dari loket salah satu rumah sakit di kotaku. Isi pesan itu sederhana: informasi bahwa hari ini Ayah dijadwalkan menjalani operasi.

Tidak ada kepanikan yang berlebihan. Tidak ada drama yang berlebihan pula. Namun sebagai anak, tentu ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika membaca pesan semacam itu. Operasi, sekecil apa pun tindakannya, tetaplah operasi. Ada ruang ikhtiar. Ada ruang harapan. Dan tentu saja ada ruang doa.

Hari yang dijadwalkan itu akhirnya tiba. Kami datang bersama. Dua anak perempuan Ayah. Dua menantu Ayah. Satu cucu laki-laki Ayah. Kami mendampingi beliau menuju loket pendaftaran. Dan seperti biasanya, langkah kaki Ayah yang panjang dan lebar membuat kami tertinggal satu hingga dua meter di belakang.

Pemandangan yang begitu akrab. Bahkan dalam statusnya sebagai pasien, cara berjalan itu tidak berubah. Beliau tetap melangkah cepat. Tetap mantap. Tetap seperti biasanya. Kami pun saling berseloroh.

“Pasien yang satu ini akan jalan sendiri masuk ke kamar operasi.”

Kalimat yang mengundang tawa. Namun di balik tawa itu tersimpan rasa syukur karena kondisi fisik Ayah masih tampak begitu baik.

Saat menuju laboratorium untuk pemeriksaan pendukung sebelum tindakan operasi, kejadian yang sama kembali terulang. Kami lagi-lagi tertinggal di belakang. Ayah lagi-lagi berjalan lebih cepat daripada para pendampingnya.

Mungkin beginilah salah satu cara Allah menghibur hati anak-anak yang sedang mengantar orang tuanya menjalani tindakan medis. Di tengah kecemasan yang wajar, masih ada ruang untuk tersenyum. Masih ada ruang untuk melihat bahwa orang yang kami cintai tetap menjadi dirinya sendiri. 

Senja itu jarum jam belum menunjukkan pukul empat ketika Ayah memasuki ruang tindakan. Pintu tertutup. Dan dimulailah fase yang sering kali menjadi bagian paling sulit bagi keluarga pasien: menunggu. Menunggu adalah aktivitas yang tampak sederhana. Namun sesungguhnya tidak mudah. Menunggu membuat kita sadar bahwa ada begitu banyak hal yang berada di luar kendali manusia. Kita tidak bisa mempercepat waktu. Kita tidak bisa memastikan hasil. Kita hanya bisa berdoa dan berharap.

Sembilan puluh menit berlalu. Azan Maghrib berkumandang. Petugas belum juga memanggil kami. Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Jam demi jam berlalu. Hingga akhirnya saat jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam, nama Ayah dipanggil oleh petugas.

Seketika kami semua berdiri. Meninggalkan ruang tunggu. Mengikuti dua petugas yang mendorong tempat tidur menuju ruang rawat. Ada rasa lega yang sulit dijelaskan. Rasa syukur karena tahap itu telah terlewati. Rasa tenang karena kami akhirnya bisa melihat kondisi Ayah secara langsung.

Sebelum meninggalkan kamar, seorang perawat memberikan instruksi.

“Tidak boleh duduk sampai besok pagi ya, Pak. Miring ke kanan kiri jangan dulu.”

Ayah mengangguk. Dan malam itu kami mengucap syukur.

Alhamdulillah.

Tindakan telah selesai. Kini tinggal menunggu proses pemulihan. Menunggu tubuh menjalankan tugasnya untuk menyembuhkan. Menunggu ikhtiar medis menunjukkan hasil terbaiknya. Menunggu dengan doa yang terus dipanjatkan.

Di rumah, Ibu yang memang kami minta tetap beristirahat tidak berhenti memantau keadaan. Telepon datang berkali-kali. Video call menyusul beberapa saat kemudian. Sebagai pasangan hidup yang telah menemani perjalanan panjang selama puluhan tahun, tentu sulit bagi Ibu untuk benar-benar tenang ketika suaminya berada di rumah sakit.

Namun kami sepakat bahwa malam itu Ibu sebaiknya tetap di rumah. Kondisi kesehatan beliau. Usia yang tidak lagi muda. Ditambah cuaca Kota Malang yang sedang mbediding. Semua menjadi alasan yang cukup untuk menjaga agar beliau tetap beristirahat.

Malam itu, kami berlima duduk beralas tikar. Sesekali menengok ke arah ranjang. Memastikan Ayah baik-baik saja. Memastikan beliau dapat beristirahat. Percakapan ringan mengalir tanpa rencana. Tentang banyak hal. Tentang keluarga. Tentang pekerjaan. Tentang cerita-cerita lama yang selalu menarik untuk diulang.

Dan yang menarik, dari atas ranjang pasien, Ayah tidak hanya menjadi pendengar. Beliau beberapa kali ikut menyela. Memberi komentar. Menceritakan sesuatu. Menghidupkan suasana. Seolah sedang duduk bersama kami, bukan sedang menjalani masa pemulihan pascaoperasi.

Itulah Ayah kami. Sosok yang ramah. Mudah bergaul. Mudah menyapa orang lain. Selalu peduli kepada sekitar. Seorang ekstrovert yang menemukan energi dalam percakapan dan kebersamaan.

Keesokan harinya, suasana kamar berubah. Ibu datang. Beberapa saudara dekat juga menyusul. Ada yang datang dari dalam kota. Ada pula yang datang dari luar kota. Kamar yang sebelumnya tenang menjadi lebih hidup. Lebih hangat. Lebih berwarna.

Aku selalu percaya bahwa kesembuhan tidak hanya ditopang oleh obat dan tindakan medis. Kesembuhan juga ditopang oleh perhatian. Oleh kehadiran orang-orang yang mencintai kita. Oleh doa-doa yang dipanjatkan dengan tulus. Oleh rasa bahwa kita tidak sedang berjuang sendirian. Dan hari itu kami merasakan semua itu.

Menjelang azan Ashar, seorang perawat masuk ke kamar.

“Saya lepas semua ya, Pak. Setelah ini jalan perlahan. Ke kamar mandi juga. Jika tidak ada keluhan, nanti malam sudah boleh pulang.”

Alhamdulillah.

Kalimat sederhana itu terdengar seperti kabar baik yang sangat menenangkan. Satu demi satu alat dilepas. Satu demi satu tahapan pemulihan menunjukkan perkembangan yang baik. Harapan semakin besar. Syukur semakin dalam.

Usai Salat Maghrib, aku kembali ke kamar. Dan di sanalah aku melihat pemandangan yang membuatku tersenyum. Ayah berjalan perlahan dari ruang perawat sambil menenteng sebuah tas berwarna biru. Beliau baru saja mengurus sesuatu sendiri.

Aku tidak terkejut. Karena memang begitulah beliau. Mungkin inilah pasien paling unik yang pernah kutemui. Mengurus pendaftaran sendiri. Berjalan menuju berbagai ruang pemeriksaan sendiri. Dan kini mengurus proses kepulangan sendiri. Kemandirian itu masih begitu kuat melekat dalam diri Ayah. 

Tepat pukul tujuh malam, kami meninggalkan rumah sakit. Adikku dan putraku membawa beberapa tas. Aku mendampingi Ibu berjalan menuju tempat parkir. Sementara itu, perhatian kami terus tertuju kepada satu orang yang sedang berjalan sedikit lebih cepat daripada yang seharusnya.

“Ayah, pelan-pelan saja.”

Kalimat itu berkali-kali kami ulang. Namun seperti biasa, langkah kaki beliau seolah memiliki ritmenya sendiri. Ingin segera sampai. Ingin segera bergerak. Ingin segera kembali menjalani kehidupan seperti biasa.

Dan di saat itulah aku menyadari sesuatu. Rumah sakit bukan hanya tempat orang belajar tentang sakit. Rumah sakit juga tempat orang belajar tentang cinta. Tentang bagaimana seorang istri terus memikirkan suaminya meski diminta beristirahat di rumah. Tentang bagaimana anak-anak menyisihkan waktu untuk mendampingi orang tuanya. Tentang bagaimana saudara-saudara datang membawa perhatian. Tentang bagaimana tenaga medis menjalankan tugasnya dengan kesabaran. Tentang bagaimana doa-doa diam-diam dipanjatkan oleh banyak orang.

Dua hari di akhir pekan itu menjadi pengingat yang sangat berharga. Bahwa kesehatan adalah nikmat. Bahwa keluarga adalah karunia. Bahwa kebersamaan adalah anugerah. Dan bahwa syukur tidak seharusnya menunggu datangnya ujian.

Malam itu kami pulang dengan hati yang lebih ringan. Dengan doa yang terus berlanjut. Dengan harapan agar pemulihan berjalan sempurna. Dan dengan kesadaran baru bahwa banyak hal yang selama ini dianggap biasa ternyata adalah nikmat yang luar biasa.

Alhamdulillah Ya Allah atas segala karunia-Mu.

Terima kasih atas kesehatan yang masih Engkau titipkan. Terima kasih atas keluarga yang saling menguatkan. Terima kasih atas saudara dan sahabat yang menghadirkan doa. Terima kasih atas para tenaga medis yang menjadi perpanjangan tangan ikhtiar kesembuhan. Dan terima kasih karena telah mengizinkan kami melewati dua hari itu dengan begitu banyak pelajaran.

Semoga Ayah senantiasa diberi kesehatan, kekuatan, dan umur yang penuh keberkahan. Semoga beliau dapat kembali beraktivitas seperti biasa. Dan semoga kami, anak-anaknya, selalu diberi kesempatan untuk menemani, menjaga, serta membahagiakannya.

Aamiin.

Lorong Kamar Ruby, 7 Juni 2026.


Post a Comment

0 Comments