“Apa Nak?”
“Apa Is(tri)?”
“Apa Ibu Negara?”
Tiga kalimat sederhana yang selalu berhasil membuatku tersenyum. Begitulah koleksi jawaban suamiku setiap kali kupanggil. Tidak pernah kehilangan kreativitas. Tidak pernah kehabisan cara untuk membuat suasana menjadi ringan.
Kadang aku memanggilnya hanya untuk memastikan sesuatu, kadang hanya ingin mencari perhatian. Tetapi jawabannya selalu datang dengan gaya khasnya: datar, tanpa ekspresi, namun justru di situlah letak kelucuannya.
Belum lagi jika tiba-tiba dia memanggilku dengan nama saja. Tanpa “Mama”, tanpa “Istri”, tanpa embel-embel apa pun. Sebuah cara kecil untuk menggodaku.
“Papa sayang nda sama Mama?” tanyaku suatu ketika.
“Kadang-kadang,” jawabmu singkat. Tanpa ekspresi.
Aku terdiam beberapa detik. Lalu, seperti biasa, aku hanya bisa tertawa. Bukan karena jawabanmu benar-benar meragukan rasa sayang itu, tetapi karena aku tahu, begitulah caramu mencintai. Tidak selalu dengan kata-kata manis. Tidak selalu dengan kalimat romantis yang berbunga-bunga. Tetapi hadir dalam bentuk sederhana, bahkan terkadang absurd dan mengundang tawa.
“Pa, butuh kehangatan,” ujarku ketika suhu kota ini turun hingga 16 derajat Celsius. Udara dingin menusuk, membuat tubuh ingin mencari selimut dan secangkir minuman hangat.
“Kompor,” sahutmu cepat. Tanpa ekspresi. Dan pecahlah tawaku.
Jawaban kocak yang meluncur begitu saja darimu itulah yang sering kali menjadi “penghangat” paling ampuh. Bukan api kompor yang membuat tubuhku nyaman, tetapi caramu membuat suasana menjadi ringan. Di tengah dinginnya cuaca, selalu ada kehangatan yang lahir dari canda sederhana.
Mungkin begitulah bahasa cinta kami. Tidak selalu terdengar seperti puisi. Tidak selalu terbingkai dalam kalimat romantis. Tetapi hadir dalam tawa, dalam keisengan, dalam kebiasaan kecil yang hanya kami berdua yang memahami.
Sisa air cuci tangan dan cuci kaki pun menjadi senjata ampuh untuk saling menjahili ketika musim mbediding datang. Sebuah percikan kecil yang mungkin bagi orang lain tidak bermakna, tetapi bagi kami justru menjadi tanda bahwa semuanya baik-baik saja.
Jika berada di dekatmu aku masih menjadi sasaran cubitan, jeweran, dan segala tingkah polah kejailanmu, itu pertanda hubungan kami masih sehat. Sebab terkadang, cinta yang paling nyaman adalah cinta yang membuat kita tetap bisa menjadi diri sendiri.
Cinta yang tidak harus selalu tampil sempurna. Cinta yang memberi ruang untuk tertawa. Cinta yang membuat dua orang dewasa masih bisa bersikap seperti anak-anak ketika bersama. Kadang ia hadir dalam bentuk saling mengganggu, saling mengejek, saling tertawa, dan saling memahami bahwa di balik semua keisengan itu ada rasa memiliki.
Jalan pagi menjadi salah satu ritual kecil yang selalu kami nikmati. Kami berjalan, berbincang, lalu menertawakan kekonyolan dan kekocakan diri kami sendiri. Tidak ada agenda besar. Tidak ada kemewahan yang harus dikejar. Cukup langkah kaki yang beriringan dan percakapan sederhana yang membuat hati terasa penuh.
Pulang membawa tentengan nasi pecel. Tak lupa jajanan tradisional kesukaan: lupis, sawut, tape, dan getuk. Sederhana, tetapi penuh makna. Karena ternyata bahagia tidak selalu membutuhkan tempat istimewa. Kadang bahagia hanya membutuhkan seseorang yang mau berjalan di samping kita, menikmati cerita yang sama, dan tertawa pada hal-hal yang hanya kami berdua yang mengerti.
Dari kesederhanaan itulah kebahagiaan sering kali bersembunyi. Sebab rumah bukan hanya tentang bangunan tempat kita kembali. Rumah adalah seseorang yang membuat kita merasa diterima, didengarkan, dan dimengerti.
Suara pintu gerbang yang terbuka saat senja mulai turun, bahkan ketika gelap sudah menghiasi langit, selalu menjadi pertanda bahagia bagiku. Artinya kamu pulang. Artinya aku punya tempat untuk “presentasi”.
Presentasi tentang riuh rendah hari ini. Tentang pekerjaan. Tentang cerita orang-orang yang kutemui. Tentang hal-hal kecil yang mungkin tidak penting bagi orang lain, tetapi penting untuk kubagikan kepadamu.
Dan kamu selalu menjadi pendengar terbaik. Mengabaikan notifikasi telepon genggam. Menatapku. Menyimak setiap materi presentasiku dengan seksama. Damainya dunia ini.
Konon perempuan membutuhkan ribuan kata setiap harinya untuk dikeluarkan. Aku tidak tahu apakah angka itu benar atau tidak. Tetapi yang aku tahu, kamu selalu menyediakan ruang untuk mendengarkan. Dan ternyata, didengarkan adalah salah satu bentuk cinta yang paling menenangkan.
“Temannya Mama itu ya Papa.”
Kalimat sederhana dari anak perempuan kami suatu hari membuatku tersenyum. Karena memang demikian adanya.
Selama 27 tahun perjalanan ini, kamu bukan hanya pasangan hidup. Kamu adalah teman perjalanan, tempat berbagi cerita, tempat bertukar pikiran, sekaligus tempat kembali ketika dunia terasa melelahkan. Padahal, perjalanan kami tidak selalu mudah.
“Ma, jangan sering-sering ninggalin Papa.”
“Ma, Papa itu nda bisa jauh-jauh dari Mama.”
Begitulah komentar anak sulung ketika dulu kami menjalani LDM. Mungkin dia melihat sesuatu yang tidak selalu kami sadari: bahwa di balik jarak, ada ikatan yang tetap terjaga.
Selama 22 tahun kami menjalani long distance marriage. Tempat kerja yang berbeda kota membuat kami tidak selalu bisa bersama. Ada hari-hari yang harus dilewati sendiri. Ada rindu yang harus disimpan. Ada cerita yang baru bisa dibagikan ketika bertemu.
Ketika akhirnya aku mutasi ke Malang, semuanya terasa seperti membuka lembaran baru. Lingkungan baru. Tempat kerja baru. Rutinitas baru. Tidak mudah beradaptasi. Tidak mudah menemukan teman untuk berbagi cerita dan tertawa bersama.
Ada masa ketika ingin menangis karena merasa sendiri. Tetapi kemudian aku menyadari, inilah jawaban Allah atas doa-doa yang selalu kami langitkan. Jawaban atas ikhtiar yang kami lakukan. Setiap pilihan selalu membawa konsekuensi.
Dan kamu tetap berdiri di sana. Membersamai. Menjadi tempat pulang. Menjadi orang pertama yang mendengar keluh kesahku.
Dua pekan lagi tepat setahun masa mutasiku di kota ini. Satu tahun terakhir begitu banyak cerita yang Allah takdirkan untuk kami lalui bersama. Ada bahagia. Ada sedih. Ada tawa. Ada air mata. Ada hari-hari ringan. Ada hari-hari yang terasa berat.
Tetapi satu hal yang tidak berubah: Kamu tetap berdiri di sampingku. Tidak selalu dengan kata-kata besar. Tidak selalu dengan janji yang terdengar indah. Tetapi dengan kehadiran yang nyata.
27 tahun melangkah bersama. Jika perjalanan pernikahan kami diibaratkan seperti pertandingan sepak bola, mungkin seperti bola dalam laga Piala Dunia yang diperebutkan oleh dua kesebelasan dengan satu tujuan: mencetak gol.
Begitulah perjalanan kami selama 27 warsa. Kadang kami bermain dengan strategi yang sama. Kadang berbeda cara. Kadang salah satu dari kami jatuh. Kadang salah langkah. Kadang harus berhenti sejenak untuk mengatur napas.
Tetapi tujuan kami tetap sama: Mencari rida-Nya. Karena pernikahan bukan tentang siapa yang selalu menang. Pernikahan adalah tentang dua orang yang terus memilih berada dalam tim yang sama. Kemenangan terbesar dalam sebuah pernikahan bukanlah tentang siapa yang menang dalam perdebatan, siapa yang paling benar, atau siapa yang paling banyak berkorban. Kemenangan sejati adalah ketika dua orang tetap memilih berjalan bersama, meski perjalanan tidak selalu mudah.
Selamat ulang tahun pernikahan, Sayang. Mari tetap bahagia. Mari menua bersama.
Terima kasih telah hadir dalam setiap fase tumbuh kembang dua permata hati kita.
Terima kasih telah menjadi tangki cinta bagi anak perempuan kita, sehingga ia tumbuh menjadi perempuan yang tangguh dan tahan banting.
Terima kasih telah menjadi teladan bagi anak bujang kita, sehingga ia belajar bertanggung jawab, siap menerima pendelegasian tugas dari Papanya, dan selalu memperlakukan mamanya yang random ini dengan manis.
Terima kasih untuk setiap “terima kasih” yang selalu kamu ucapkan kepadaku. Kalimat sederhana, tetapi selalu mampu membuatku merasa dihargai.
Semoga Allah senantiasa menjaga keluarga kita, memberikan keberkahan dalam setiap langkah, dan menjadikan rumah kita tempat tumbuhnya cinta, kesabaran, serta ketakwaan.
Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a'yunin waj'alna lil-muttaqina imama.
Dan satu lagi…
Selamat untuk tim jagoanmu, Spanyol, yang berhasil melangkah menuju babak paling mendebarkan: final Piala Dunia 2026.
Karena ternyata setelah 27 tahun bersama, aku masih harus belajar satu hal: Mencintaimu juga berarti ikut memahami hal-hal kecil yang membuatmu bahagia. Termasuk sepak bola. Termasuk Spanyol. Termasuk semua “keanehan” kecil yang membuatmu tetap menjadi kamu.
Selamat ulang tahun pernikahan, Sayang.
Tetaplah menjadi rumah yang selalu ingin aku datangi. Hari ini bukan hanya tentang sepak bola. Hari ini tentang perjalanan. Tentang perjuangan. Tentang bertahan. Tentang mencetak “gol-gol kecil” kebahagiaan dalam pertandingan bernama kehidupan. Dan kita masih bermain di lapangan yang sama. Bersama. Selamanya, insyaAllah.
Malang, 15 Juli 2026



0 Comments