Udara pagi itu terasa berbeda. 18 derajat Celcius di kota yang biasanya identik dengan panas menyengat adalah sebuah kejutan kecil yang menyenangkan. Waktu menunjukkan menjelang Subuh di Makkah pada Jumat pagi, 11 Sya’ban 1447 H. Langit masih gelap, tetapi halaman dan lorong-lorong menuju Masjidil Haram telah hidup oleh langkah ribuan manusia yang bergerak dengan tujuan yang sama: mendekat kepada Allah.
Arus jamaah yang masuk dan keluar masjid sama-sama padat pagi itu. Sejak Kamis malam, suasana sudah terasa berbeda. Jumat—sayyidul ayyam, penghulu segala hari—selalu membawa gelombang manusia yang lebih besar. Seolah-olah seluruh dunia Islam serentak ingin berada di tempat yang sama pada hari yang sama.
“Habis sarapan, kita ambil miqat di Tan’im,” ujar suamiku sebelum kami keluar kamar.
Rencana pagi itu sederhana: Salat Subuh berjamaah, sarapan, lalu mengambil miqat di Masjid Aisyah (Masjid Tan'im) untuk melaksanakan umrah berikutnya. Namun di Tanah Suci, sering kali rencana manusia hanya menjadi pengantar menuju pelajaran yang lebih dalam.
Ketika adzan pertama berkumandang, kami sudah hampir sampai di pintu 88. Tetapi hanya setengah menit keterlambatan sudah cukup untuk mengubah situasi. Petugas mulai menutup pintu. Pembatas berwarna putih berjajar rapi, menandakan bahwa akses itu telah penuh.
Kami beralih ke pintu 91. Langkah kami melambat karena padatnya jamaah yang juga mencari jalan masuk. Di tengah arus manusia yang terus bergerak, kami harus berpisah sementara.
Suami dan anak bujang mengambil jalur kanan, sementara aku dan anak gadis bergerak ke kiri.
“Nanti ketemu di sini,” ujar suami sambil menunjuk angka yang tertera di pintu sebagai titik temu.
Di tengah keramaian Masjidil Haram, kesepakatan kecil seperti itu terasa sangat penting. Sebuah angka di pintu bisa menjadi penanda harapan untuk kembali bertemu.
Area salat perempuan pagi itu masih cukup leluasa. Aku dan anak gadis bisa memilih tempat dengan tenang. Karpet tebal masjid terasa hangat di bawah kaki. Bagi jamaah yang pernah merasakan padatnya Masjidil Haram, mendapatkan tempat salat di dalam masjid adalah nikmat yang tidak kecil.
Alhamdulillah.
Salat Subuh berlangsung khusyuk. Setelahnya dilanjutkan dengan salat jenazah—satu tradisi yang hampir selalu hadir setelah salat fardhu di Masjidil Haram. Setiap kali salat jenazah dilaksanakan, hati selalu tersentuh oleh kesadaran yang sama: betapa hidup manusia begitu singkat, dan betapa mulianya jika akhir perjalanan itu berada di dekat Ka’bah.
Usai salat, aku dan anak gadis berjalan menuju titik pertemuan. Namun kali ini kami justru melawan arus.
Gelombang jamaah Subuh mengalir keluar dari masjid, sementara kami bergerak sebaliknya. Perlahan, arus manusia menjadi semakin padat. Di tengah langkah yang tersendat, muncul kekhawatiran kecil dalam hati.
Jangan-jangan pintu tempat kami berjanji bertemu sudah ditutup.
Dan benar saja.
Ketika kami sampai di sana, pembatas putih sudah berjejer rapi di pintu 91.
Tak ada jalan masuk.
Akhirnya kami mengikuti arus jamaah menuju pintu keluar.
Pelataran masjid pagi itu telah berubah menjadi lautan manusia. Gelombang jamaah bergerak perlahan seperti arus laut yang tak terlihat ujungnya. Beberapa kali langkah kami tersendat karena rombongan jamaah yang berjalan melawan arah.
Di tengah kepadatan itu, sesuatu yang sangat cepat terjadi.
Beberapa detik sebelumnya, suamiku masih terlihat beberapa langkah di depanku. Tetapi dalam hitungan detik, ia menghilang dari pandangan.
Lebih mengejutkan lagi, ketika aku menoleh ke belakang, kedua anakku yang tadi bergandengan erat juga tidak terlihat lagi.
Seperti tertelan oleh lautan manusia.
Perasaan cemas datang begitu saja.
Namun tidak ada ruang untuk berhenti terlalu lama. Arus manusia terus bergerak. Jika berhenti, justru akan menambah kepadatan. Aku mempercepat langkah hingga akhirnya berhasil keluar dari simpul keramaian di depan lift.
Beberapa detik kemudian, kedua anakku muncul dari arah pertokoan.
“Papa mana, Ma?” tanya anak gadisku.
“Nda tahu, tiba-tiba sudah nda terlihat,” jawabku singkat.
Ia menatapku dengan wajah yang penuh empati.
“Kasihannya mama sendirian.”
Kalimat sederhana itu justru membuat hatiku terasa hangat.
Beberapa menit kemudian kami akhirnya bertemu kembali di math’am, tempat sarapan.
“Tumben nda pegangan Papa,” bisik suamiku.
Aku hanya tersenyum kecil. Pagi itu memang moodku tidak sedang baik-baik saja. Aku sengaja menjaga jarak. Ironisnya, keputusan kecil itu justru membuat kami terpisah di tengah lautan manusia.
Di Tanah Suci, kadang pelajaran datang dalam bentuk yang sangat sederhana.
Usai sarapan, kami berjalan menuju halte bus untuk mencari kendaraan menuju Tan’im.
Deretan taksi menunggu calon penumpang. Ada yang berwarna putih, ada juga yang hijau. Pilihan kami jatuh pada sebuah taksi hijau yang dikemudikan oleh seorang driver berkebangsaan Bangladesh.
Percakapan ringan mengalir antara suami dan sang sopir—kadang dalam bahasa Inggris, kadang bercampur dengan bahasa Arab.
Sang sopir menjelaskan bahwa jalan sekitar Haram sering macet menjelang atau setelah salat berjamaah. Beberapa ruas jalan bahkan ditutup.
“Kadang satu sampai dua jam untuk kembali ke Haram,” katanya.
Namun pagi itu perjalanan terasa lancar.
Sekitar 25 menit kami melaju di jalan lebar tanpa kemacetan. Di kanan kiri terbentang pegunungan batu khas Makkah. Deretan apartemen dan hotel berdiri dengan warna yang hampir seragam dengan warna gunung.
Anak gadisku tiba-tiba berkomentar,
“Vibes-nya sad, nda ada bangunan warna-warni.”
Kami tertawa kecil. Memang benar. Kota ini tidak menonjolkan warna. Namun justru dalam kesederhanaan itulah Makkah memiliki keagungan yang berbeda.
Ketika sampai di Masjid Aisyah (Masjid Tan'im), antrean kendaraan sudah mengular memasuki area parkir.
Kami turun dari taksi dan mengambil foto nomor kendaraan—langkah kecil yang penting agar tidak kebingungan saat kembali nanti.
Waktu yang kami habiskan di sana tidak lama. Hanya sekitar 15 menit untuk salat sunnah dan niat ihram.
Buku doa sudah siap di tangan masing-masing.
Alhamdulillah, dengan manasik kilat yang pernah kami lakukan bersama, kedua anak kami sudah memahami apa yang harus dibaca dan dilakukan.
Ketika kembali mendekati Haram, antrean kendaraan mulai terlihat. Banyak jamaah dengan pakaian ihram turun dari mobil.
Mentari mulai memamerkan sinarnya.
Hari Jumat membuat area mathaf sangat padat. Gelombang manusia bergerak perlahan mengelilingi Ka’bah.
Kami menggunakan formula 1–1—setiap orang berpegangan pada satu orang lain hingga orang keempat. Cara sederhana ini terbukti sangat membantu agar tidak terpisah.
Biasanya kepadatan terbesar berada di sekitar Hajar Aswad. Namun Jumat itu berbeda. Kepadatan menyebar di seluruh area mathaf.
Tawaf terasa seperti mengikuti arus laut.
Tidak ada ruang kosong.
Hanya kesabaran.
Memberi jalan bagi rombongan yang menyeberang. Mengalah pada kelompok besar yang sulit ditembus. Menahan langkah agar tidak menyakiti orang lain.
Putaran demi putaran akhirnya terselesaikan.
Tujuh putaran tawaf selesai.
Alhamdulillah.
Namun tidak ada ruang kosong untuk salat sunnah di dekat Ka’bah.
Kami mundur jauh ke belakang. Setelah minum air Zamzam untuk mengembalikan energi yang terkuras di bawah terik matahari, kami salat di area yang lebih lapang.
“Papa ke kamar mandi dulu,” kata suami.
“Sa’i setelah Salat Jumat. Mama sama Kak Fi salat di sini saja.”
Shaf Salat Jumat sudah mulai tersusun rapi hingga ke area mas’a, tempat sa’i antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah.
Namun beberapa menit kemudian, pesan masuk di grup keluarga:
“Adzan masih lama, kita sa’i sekarang.”
Kami pun bergegas.
Putaran sa’i dimulai.
Tetapi seiring waktu, jalur sa’i semakin sempit karena shaf Salat Jumat terus bertambah. Pada putaran keempat, suami memberi isyarat agar kami berhenti dan masuk ke dalam shaf.
Khutbah Jumat berlangsung singkat—mungkin karena panas yang sangat terik.
Setelah salat selesai, arus sa’i kembali bergerak. Namun tidak langsung lancar. Banyak jamaah yang duduk di area mas’a hingga ditegur petugas.
Akhirnya kami mengambil jalur tengah.
Alhamdulillah.
Tiga putaran terakhir selesai.
Setelah tahallul, kami berjalan menuju pintu keluar.
Di luar, pemandangan yang sama kembali terlihat: lautan manusia.
Mentari berdiri gagah di langit. Panasnya terasa seperti menyengat kulit. Tanpa berpikir panjang, aku mengeluarkan sajadah dan menaruhnya di atas kepala sebagai pelindung.
Kali ini aku memegang erat tangan suami.
Namun ketika menoleh ke belakang, kedua anak kami sudah tidak terlihat lagi.
Lagi-lagi terpisah.
Kami akhirnya mengikuti arus manusia menuju hotel.
Langkah terasa berat. Tubuh lelah. Perut mulai bernyanyi. Matahari terasa semakin panas.
Tetapi di tengah semua itu, hati justru belajar sesuatu.
Bahwa di Tanah Suci, manusia benar-benar menjadi kecil.
Di tengah jutaan orang yang datang dari seluruh dunia, kita hanyalah satu titik kecil dalam lautan hamba-hamba Allah.
Dan mungkin justru di situlah letak keindahannya.
Sesampainya di kamar hotel, kami segera mengganti pakaian.
Namun kedua anak belum kembali.
Beberapa saat kemudian sebuah pesan masuk di grup keluarga.
Bukan teks.
Sebuah foto.
Foto restoran pizza yang beberapa kali mereka bicarakan sejak awal perjalanan.
Aku tertawa kecil.
Ternyata mereka tidak tersesat.
Mereka hanya berpetualang mencari pizza.
Hari itu mengajarkan banyak hal.
Tentang kesabaran ketika berjalan di tengah keramaian.
Tentang pentingnya saling menggenggam tangan.
Tentang bagaimana emosi kecil bisa membawa konsekuensi yang tak terduga.
Namun lebih dari itu, hari itu mengingatkan bahwa perjalanan ibadah bukan hanya tentang ritual yang dilakukan.
Ia juga tentang perjalanan hati.
Tentang belajar merendah di tengah lautan manusia.
Tentang menyadari bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian, karena di setiap langkah ada doa yang mengiringi.
Dan di penghujung hari itu, hati hanya mampu berbisik pelan:
Syukur yang sangat dalam.
Di tempat yang mulia.
Di hari yang mulia.
Bersama keluarga tercinta.
Di tengah lautan manusia yang datang dari seluruh penjuru bumi.
Kami hanyalah empat orang kecil dalam jutaan jamaah.
Tetapi Allah tetap menjaga langkah kami.
Mempertemukan kami kembali setiap kali terpisah.
Dan mengajarkan sesuatu yang sederhana namun dalam:
Di tanah suci, kita belajar bahwa tidak ada yang benar-benar kita kendalikan.
Arus manusia bisa memisahkan kita.
Pintu masjid bisa tiba-tiba ditutup.
Rencana bisa berubah dalam hitungan detik.
Namun di balik semua itu ada satu kepastian yang menenangkan:
Allah selalu tahu di mana kita berada.
Dan selama hati tetap menuju-Nya, kita tidak pernah benar-benar tersesat.
Makkah al Mukarromah, 30 Januari 2026

.jpeg)
.jpeg)
0 Comments