Ziarah Perpisahan yang Membuka Ruang Harapan

Ada perjalanan yang tidak pernah benar-benar selesai ketika langkah kaki berhenti. Ia terus hidup dalam dada—berdenyut pelan, kadang menghangat, kadang justru mengiris rindu yang tak mudah dijelaskan. Perjalanan ke Madinah, bagi kami, adalah salah satu dari itu: sebuah perjalanan pulang yang justru terasa seperti awal dari kerinduan panjang yang baru.

Udara dingin menyapa pagi itu, dengan hembusan angin yang sesekali datang tanpa permisi. Kami melangkah menuju masjid untuk Salat Subuh, berbalut baju berlapis, syal, dan doa-doa yang diam-diam kami rapalkan. Langit masih gelap, namun jalanan telah hidup—dipenuhi langkah-langkah manusia yang sama-sama menuju satu arah: Masjid Nabawi, tempat di mana rindu bertemu dengan harap.

“Habis jama’ah ketemu di area lurus kubah hijau, ziarah wada’, pamit ke Rasulullah,” ujar suamiku sesaat sebelum kami berpisah di depan pintu masjid, di batas antara area jamaah laki-laki dan perempuan.

Kalimat itu sederhana, tapi sarat makna. Pamit. Kata yang selalu terasa berat, apalagi jika ditujukan kepada seseorang yang bahkan belum pernah kita jumpai secara fisik, tetapi begitu dekat dalam iman.

Aku dan anak gadis kami mempercepat langkah menuju pintu 25. Harapan kami sederhana: masih ada ruang untuk salat di dalam masjid. Namun harapan itu sedikit tertahan ketika kami melihat notifikasi merah di atas pintu masuk—tanda bahwa masjid telah penuh. Langkah kami melambat, bukan karena lelah, tetapi karena harus menerima kenyataan bahwa hari itu, seperti banyak hari Jumat lainnya di Madinah, adalah hari di mana jutaan doa bertemu dalam satu ruang yang terbatas.

Jumat pagi, sayyidul ayyam. Hari terbaik dalam sepekan. Hari di mana setiap orang berlomba-lomba mendekatkan diri kepada Allah, menggapai ampunan, dan memohon anugerah yang tak terhitung.

Kami akhirnya salat di pelataran, bersama ribuan jamaah lainnya. Angin masih terasa dingin, tapi entah mengapa, ayat-ayat yang dilantunkan imam justru menghangatkan jiwa. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan—seolah-olah setiap kata yang keluar dari lisan imam adalah pelukan yang menenangkan.

Usai Salat Subuh, arus manusia bergerak perlahan menuju Raudhah. Gelombang jamaah mengalir, tersendat, lalu mengalir lagi. Pagi itu, antrean jamaah perempuan di pintu 37 mengular panjang. Kami tidak memaksakan diri untuk menembus kerumunan jamaah. Ada pelajaran besar dalam setiap penantian di tanah suci: bahwa tidak semua yang kita inginkan harus kita capai hari itu juga. Kadang, cukup dengan berada dekat, itu sudah menjadi anugerah yang luar biasa.

Kami berjalan menuju titik yang telah disepakati—area yang lurus dengan kubah hijau. Di sanalah kami kembali bertemu: aku, suamiku, anak gadis, dan anak bujang kami. Sebuah pertemuan kecil di tengah lautan manusia, namun terasa begitu utuh.

Ziarah wada’.

Kami berdiri menghadap arah makam Rasulullah, dalam diam yang penuh makna. Tidak ada kata-kata panjang. Hanya doa yang mengalir begitu saja, seolah hati sudah tahu apa yang harus disampaikan.

“Ya Allah, panggil kami kembali dengan kesehatan yang lebih baik, dengan harta yang lebih baik, dengan iman yang lebih baik, dengan kondisi dan situasi yang lebih baik. Panggil kami kembali, Ya Allah.”

Doa itu sederhana, tapi terasa begitu dalam. Karena di baliknya ada kesadaran bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang hadir, tetapi tentang kembali—kembali dengan versi diri yang lebih baik.

Allohumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad.

Shalawat itu mengalun pelan, namun terasa menggema dalam dada.

Kami kemudian melangkah meninggalkan masjid, menyatu dalam arus jamaah yang cukup padat pagi itu. Ada rasa berat di setiap langkah, seperti ada bagian dari hati yang enggan untuk benar-benar pergi.

Di tengah perjalanan menuju hotel, suamiku tiba-tiba menunjuk sebuah bangunan.

“Itu Masjid Ghamamah,” katanya. “Waktu Nabi salat di padang pasir, salat istisqa’, tempat beliau tidak terpapar panas karena dinaungi awan.”

Aku menoleh, mencoba menangkap bentuk bangunan itu di tengah lalu lintas yang sibuk. Sebuah masjid bersejarah yang berdiri tidak jauh dari Masjid Nabawi—sekitar 300 hingga 500 meter di sebelah barat daya.

Nama “Ghamamah” sendiri berarti “awan”. Sebuah nama yang lahir dari peristiwa yang sarat makna: ketika Rasulullah SAW melaksanakan salat istisqa’, memohon hujan di tengah kekeringan, dan sebuah awan datang menaungi beliau dari terik matahari. Tak lama kemudian, hujan pun turun.

Tempat itu dahulu adalah tanah lapang—al-musalla—yang menjadi saksi berbagai momen penting dalam sejarah Islam. Di sanalah Rasulullah pertama kali memimpin salat Idul Fitri pada tahun 2 Hijriah. Di sana pula beliau memimpin salat istisqa’, memohon hujan untuk penduduk Madinah. Bahkan, di tempat itu pula, Rasulullah pernah memimpin salat gaib, salah satunya untuk Raja Najasyi dari Abisinia.

Kini, bangunan yang berdiri adalah peninggalan era Utsmani yang telah direnovasi oleh pemerintah Arab Saudi. Di sekitarnya terdapat masjid-masjid kecil lainnya: Masjid Abu Bakar, Masjid Ali bin Abi Thalib, dan Masjid Umar. Semuanya menjadi pengingat bahwa setiap sudut Madinah menyimpan jejak sejarah yang tak ternilai.

Namun, menariknya, tidak ada anjuran khusus untuk melaksanakan salat di Masjid Ghamamah. Ia lebih menjadi monumen sejarah—sebuah ruang untuk mengingat, bukan sekadar untuk beribadah. 

Dan mungkin di situlah letak pelajarannya: bahwa dalam hidup, tidak semua tempat harus kita “isi” dengan aktivitas. Ada ruang-ruang yang cukup kita hargai dengan kesadaran dan ingatan.

Waktu berjalan cepat. Jam 11 siang, empat koper bagasi dan empat koper kabin telah berjajar rapi di depan kamar hotel. Delapan koper, seperti simbol dari banyaknya cerita yang kami bawa pulang—cerita yang tak semuanya bisa dimasukkan ke dalam kata-kata.

Hari itu adalah hari kepulangan. Ada perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan. Bahagia karena akan kembali ke rumah, tetapi juga sedih karena harus meninggalkan tempat yang telah memberi begitu banyak ketenangan.

Usai salat Jumat, mobil jemputan sudah menunggu di depan hotel. Koper-koper kami tertata rapi di dalam bagasi. Perjalanan menuju bandara pun dimulai. Bandara Internasional Pangeran Mohammad Bin Abdulaziz—gerbang utama bagi jutaan jemaah haji dan umrah yang ingin langsung menuju Masjid Nabawi tanpa harus melalui Jeddah.

Perjalanan siang itu sedikit tersendat. Arus kepulangan jamaah Salat Jumat membuat lalu lintas padat. Polisi terlihat mengatur jalan, memastikan kendaraan dan pejalan kaki tetap bergerak, meski harus bergantian.

Sekitar 25 menit kendaraan kami melaju di jalanan Madinah. Jalan tol di Arab Saudi terasa luas dan teratur—3 hingga 6 lajur di setiap jalur. Di sepanjang jalan, papan peringatan berwarna kuning tampak jelas: batas kecepatan 120 km/jam untuk mobil, 100 km/jam untuk bus, dan 80 km/jam untuk truk.

Menariknya, semua kendaraan, terutama truk dan kendaraan bermuatan berat, melaju dengan tertib. Tidak ada kesan terburu-buru. Semuanya berjalan dalam ritme yang teratur.

Jalan tol di Madinah, khususnya yang menghubungkan kota ini dengan kota-kota utama lainnya, merupakan bagian dari jaringan jalan raya modern yang menopang mobilitas jutaan jemaah. Hampir seluruh jalan tol di Arab Saudi dapat digunakan secara gratis—sebuah fasilitas yang menunjukkan bagaimana negara ini melayani para tamu Allah.

Pemerintah juga menyediakan posko layanan keliling di sepanjang Jalur Tol Hijrah, untuk mengantisipasi masalah teknis seperti bus mogok. Lebih dari 1.135 kilometer jalur antara Makkah dan Madinah terus dipantau dan dirawat, terutama untuk menghadapi lonjakan arus selama musim haji dan umrah.

Perjalanan yang awalnya terasa biasa, tiba-tiba menjadi reflektif. Bahkan infrastruktur pun bisa menjadi bagian dari ibadah—ketika ia diniatkan untuk memudahkan perjalanan manusia menuju Tuhan.

Tak terasa, 25 menit berlalu, dan kami tiba di bandara. Bandara Internasional Pangeran Mohammad Bin Abdulaziz tampak sibuk siang itu. Pada tahun 2024, bandara ini mencatat rekor dengan melayani sekitar 10 hingga 12 juta penumpang—meningkat sekitar 15% dari tahun sebelumnya.

Namun di balik angka-angka itu, ada cerita manusia yang tak terhitung. Ada air mata, doa, harapan, dan perpisahan yang semuanya bertemu di satu tempat.

Proses check-in berjalan lancar. Pemeriksaan paspor dan barang bawaan pun tidak mengalami kendala. Kami berjalan menuju ruang tunggu, membawa perasaan yang semakin sulit dijelaskan.

Ini bukan sekadar perjalanan pulang. Ini adalah perpisahan.

Aku duduk, memandangi sekeliling. Banyak wajah yang tampak lelah, tetapi juga damai. Ada yang terdiam, ada yang berbincang pelan, ada pula yang menengadah, mungkin sedang berdoa untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar meninggalkan tanah suci.

Di titik itu, aku menyadari satu hal: bahwa perjalanan ini tidak mengubah dunia di luar sana. Dunia tetap sama. Tetapi perjalanan ini telah mengubah sesuatu di dalam diri. Dan mungkin, itu yang paling penting.

“Alhamdulillah ya Allah atas karunia dan nikmat yang tiada tara.”

Kalimat itu terucap pelan, tapi penuh rasa syukur.

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kunjungan ini sebagai pertemuan terakhirku dengan Tanah Haram Rasul-Mu. Mudahkanlah bagiku jalan untuk kembali ke dua Tanah Haram dengan kemurahan dan karunia-Mu. Berikanlah aku ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat, serta kembalikanlah kami kepada keluarga kami dalam keadaan selamat dan membawa pahala.”

Doa itu bukan hanya harapan. Ia adalah janji—janji pada diri sendiri untuk menjaga apa yang telah kami rasakan di sini. Karena sejatinya, pulang dari Madinah bukan berarti selesai.

Ia adalah awal dari perjalanan baru: perjalanan untuk menjaga iman, merawat rindu, dan menunggu panggilan berikutnya. Dan ketika suatu hari nanti panggilan itu datang kembali, kami ingin datang dengan hati yang lebih siap.

Lebih bersih.

Lebih lapang.

Dan tentu saja, dengan rindu yang tidak pernah usai.


Madinah al Munawwarah, 6 Februari 2026


Post a Comment

0 Comments