Menenun Harapan dan Menguatkan Langkah: Refleksi Halal bi Halal UIN Maliki Malang

 31 Maret 2026 menjadi hari yang sarat makna bagi keluarga besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Bertempat di Gedung Ar Rahim lantai 3, suasana Halal bi Halal tahun ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi pasca-Idul Fitri, tetapi juga momentum refleksi kolektif untuk meneguhkan arah masa depan kampus: “Penguatan Mental Spiritual Menuju Kampus Islam Bereputasi Global.”

Sejak awal acara, nuansa haru dan kebanggaan terasa menyatu. Para pendiri, pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa hadir dalam satu ruang batin yang sama—ruang yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan UIN Maliki Malang.

Jejak Perjuangan yang Menghidupkan Kampus

Salah satu momen paling menyentuh datang dari Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, M.Pd., sosok sentral dalam sejarah panjang kampus ini. Sebagai ketua pertama STAIN Malang sekaligus rektor terlama selama 16 tahun, beliau membuka sambutan dengan nada penuh haru. Beliau mengaku tidak pernah membayangkan bahwa kampus yang dahulu kecil, sederhana, dan penuh keterbatasan, kini menjelma menjadi institusi besar dengan reputasi yang terus menanjak.

“IAIN Malang adalah anak dari IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan cucu dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,” ungkapnya, seakan mengingatkan bahwa perjalanan besar selalu berakar dari sejarah panjang yang harus dihormati.

Namun, bagi Prof. Imam, kebesaran kampus tidak lahir dari kemegahan fasilitas semata. Ia bertumpu pada tiga pilar utama: semangat berjuang, keberanian berkorban, dan kekuatan doa.

1. Semangat Berjuang

Menurutnya, seluruh civitas akademika harus tetap menjaga semangat perjuangan. Kampus tidak akan pernah maju tanpa dukungan penuh terhadap kepemimpinan.

Prof. Imam secara tegas mengajak seluruh dosen dan tenaga kependidikan untuk mendukung rektor dan jajaran pimpinan dalam setiap langkah dan kebijakan yang diambil. Sebab, kampus ini besar bukan karena individu, tetapi karena gerakan kolektif yang solid.

2. Berkorban

Kisah pengorbanan yang beliau sampaikan menjadi potret nyata bagaimana kampus ini dibangun dengan darah, keringat, dan bahkan risiko pribadi. Dulu, tidak ada honorarium. Namun semangat tidak pernah surut. Justru dari kondisi itulah lahir langkah besar: proposal pertama untuk mengubah STAIN menjadi universitas.

Perjuangan itu tidak mudah. Bahkan, ketika Universitas Islam Internasional Sudan (UIIS) sempat diresmikan oleh wakil presiden Indonesia dan Sudan, keputusan pembatalan harus diterima. Demonstrasi mahasiswa pun dilakukan—sepuluh gerbong kereta diisi mahasiswa menuju Jakarta untuk menyuarakan aspirasi. Pengorbanan juga menyentuh ranah pribadi. Penilaian kinerja diturunkan. 

Dalam proses pembelian tanah Kampus 3, Prof. Imam bahkan sempat dijadikan tersangka. Namun semua itu dijalani sebagai bagian dari pengabdian. Selama 16 tahun menjabat rektor, beliau tidak pernah mengambil tunjangan jabatan. Semua disalurkan ke lembaga zakat El-Zawa. Bahkan, ia meminta seluruh pegawai untuk menyisihkan 2,5% gaji setiap bulan.

3. Berdoa

Bagi Prof. Imam, doa adalah fondasi yang tidak boleh ditinggalkan. Beliau meyakini bahwa kebesaran kampus hari ini adalah buah dari doa yang terus dipanjatkan. Namun doa tidak cukup hanya diucapkan. Ia harus dilandasi kejujuran. “Doa akan diterima jika kita jujur,” tegasnya.

Kejujuran, menurutnya, lebih penting daripada kecerdasan. Prof. Imam bahkan mengaku lebih memilih orang jujur daripada orang pintar dalam menentukan kepemimpinan.

Antara Perintis dan Penikmat

Refleksi menarik juga disampaikan oleh Prof. Dr. H. A. Muhtadi Ridwan, M.Pd., Ketua Senat selama dua periode (2017–2025).

Beliau mengingatkan bahwa dalam setiap perjalanan institusi, selalu ada dua tipe generasi: perintis dan penikmat. Perintis adalah mereka yang berjuang tanpa menghitung apa yang akan didapat. Mereka bekerja dalam sunyi, berkorban tanpa pamrih.

Sementara penikmat terbagi dua: mereka yang masih mengingat jasa para perintis, dan mereka yang lupa sama sekali. Pesannya sederhana namun tajam: jangan sampai menjadi penikmat yang lupa sejarah.

Prestasi Global dan Harapan Masa Depan

Rektor UIN Maliki Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa capaian yang diraih hari ini adalah hasil kerja kolektif seluruh elemen kampus. Salah satu capaian monumental adalah keberhasilan UIN Maliki Malang menembus peringkat 101–150 dunia dalam QS World University Rankings by Subject 2026 untuk bidang Theology, Divinity & Religious Studies.

Fakultas Syariah juga berhasil masuk dalam jajaran fakultas hukum terbaik di Indonesia versi Scimago Institutions Rankings (SIR) 2026. Namun, bagi beliau, prestasi ini bukanlah titik akhir. Ini adalah pijakan untuk melangkah lebih jauh.

Kampus 3 kini mendapat julukan “Bukit Maliki” dari Menteri Haji dan Umrah. Sementara Menteri Agama menyematkan visi sebagai “Lembah Peradaban Islam”—sebuah ruang yang menghadirkan pencerahan dan keberkahan bagi masyarakat.

Target besar pun dicanangkan: pada tahun 2029, UIN Maliki Malang harus mencapai reputasi dan rekognisi internasional yang lebih kuat. Transformasi digital juga menjadi bagian dari langkah strategis, ditandai dengan peluncuran website Maliki Islamic University berbasis AI serta sistem informasi “Sam Alim”.

Nostalgia, Spiritualitas, dan Masa Depan

Pidato Prof. Dr. H. Muhadjir Effendy, M.AP., Penasehat Khusus Presiden Bidang Haji, menjadi penutup yang sarat refleksi filosofis.

Dengan gaya santai namun penuh makna, beliau menyebut bahwa di usia 70 tahun, sebagian besar ingatannya adalah nostalgia. Namun justru dari nostalgia itulah lahir pelajaran penting. Beliau mengenang masa awal kuliahnya di IAIN Malang tahun 1974—ketika jalan masih makadam dan mahasiswa datang dengan dokar. Namun di tengah keterbatasan itu, kampus menjadi ruang untuk membangun mimpi, adu intelektual, dan memperkuat organisasi.

Beliau menekankan pentingnya membangun atmosfer akademik yang kuat—budaya membaca, diskusi, dan berpikir kritis. Pada masa itu, jurnal Prisma menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa yang ingin berkembang.

Spiritualitas sebagai Fondasi

Salah satu pesan paling kuat dari Prof. Muhadjir adalah pentingnya menghidupkan kembali dimensi spiritual dalam kehidupan kampus. Beliau berbagi pengalaman pribadi tentang kekuatan salat malam. Bahkan, beliau mengaku bahwa sebagian besar inspirasi dan pemahaman soal ujian justru datang saat tahajud.

Beliau mengutip QS Al-Isra ayat 79 sebagai dasar pentingnya ibadah malam dalam membentuk kualitas diri. Lebih jauh, beliau mengaitkan praktik spiritual dengan konsep “situs keberkahan”. Tempat yang sering digunakan untuk berdoa akan menyimpan energi spiritual yang memantul kembali kepada pelakunya. Hal ini juga beliau kaitkan dengan praktik ziarah dan selawat—bukan semata untuk yang diziarahi, tetapi sebagai medium refleksi dan penguatan batin.

Dalam analisis yang lebih luas, Prof. Muhadjir mengkritik kecenderungan sekularisasi di dunia kampus modern. Beliau mengingatkan bahwa banyak kampus besar di Barat awalnya berbasis nilai-nilai keagamaan. Namun dalam prosesnya, terjadi “profanisasi” yang membuat kampus tercerabut dari akar spiritualnya.

Menurutnya, UIN harus belajar dari pengalaman tersebut—tidak meninggalkan identitas keislaman, tetapi justru menjadikannya sebagai kekuatan utama.

Gagasan integrasi ilmu pengetahuan dan agama kembali ditegaskan sebagai fondasi utama UIN Maliki Malang. Konsep “pohon ilmu” yang digagas Prof. Imam disebut sebagai warisan besar yang harus dijaga dan dikembangkan. Bagi Prof. Muhadjir, kampus ini harus menjadi “madinatul ‘ilmi”—kota ilmu yang tidak hanya menghasilkan sarjana, tetapi juga melahirkan inspirasi bagi peradaban.

Dalam konteks ini, Prof. Muhadjir Effendy juga menyematkan sebuah imajinasi kuat bagi Kampus 3: sebagai "exotic campus"—kampus eksotik yang tidak hanya indah secara fisik, tetapi juga mampu menginspirasi secara intelektual dan spiritual. Sebuah kampus yang bukan hanya memiliki "casing" yang memikat, tetapi juga isi yang kuat, bernilai, dan berdaya pancar.

Menjadi Generasi Penerus, Bukan Sekadar Penikmat

Acara Halal bi Halal ini pada akhirnya bukan hanya tentang saling memaafkan, tetapi juga tentang meneguhkan kembali identitas dan tanggung jawab. Sebagai ASN, dosen, mahasiswa, dan bagian dari civitas akademika, setiap individu diingatkan untuk tidak hanya menikmati hasil, tetapi juga melanjutkan perjuangan.

Kampus membutuhkan lebih dari sekadar akademisi. Ia membutuhkan agen perubahan yang mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat. Soft skills seperti kemampuan berbicara, menulis, dan berbahasa asing menjadi bagian penting dalam membentuk lulusan yang unggul.

Menenun Harapan, Menguatkan Langkah

Halal bi Halal UIN Maliki Malang 2026 menjadi cermin bahwa perjalanan panjang sebuah institusi tidak pernah lepas dari kombinasi antara kerja keras, pengorbanan, dan kekuatan spiritual. Di tengah ambisi menuju reputasi global, kampus ini diingatkan untuk tidak kehilangan jati diri. Bahwa yang membuatnya besar bukan hanya gedung dan ranking, tetapi juga nilai-nilai yang hidup di dalamnya. 

Semangat berjuang, keberanian berkorban, dan ketulusan berdoa—tiga hal sederhana yang justru menjadi fondasi paling kokoh. Dengan itu semua, harapan besar pun terpatri:

Semoga UIN Maulana Malik Ibrahim Malang benar-benar menjadi pintu ilmu, pusat inspirasi, dan cahaya peradaban—madinatul ‘ilmi yang memberi makna bagi dunia.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga kita semua menjadi insan yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih bermakna.


Bukit Maliki, 31 Maret 2026


Post a Comment

0 Comments