Dari Luka Dakwah ke Putaran Ka’bah

Sabtu di penghujung bulan Januari 2025 itu terasa berbeda sejak pagi. Udara Makkah masih menyimpan sisa dingin malam ketika kami memulai hari dengan sebuah rencana yang telah lama kami nanti: perjalanan menuju Thaif dan mengambil miqat untuk umrah berikutnya. Bagi banyak jemaah, Thaif mungkin sekadar destinasi ziarah atau tempat mencari udara yang lebih sejuk setelah hari-hari panjang di Makkah. Namun bagi kami, perjalanan ini terasa seperti sebuah upaya kecil untuk menapaki jejak perjuangan dakwah Rasulullah ﷺ—jejak yang tidak selalu dipenuhi kemenangan, tetapi sering kali justru ditandai dengan luka dan kesabaran.

Perjalanan menuju Thaif bukan sekadar perpindahan ruang, melainkan juga perpindahan rasa. Dari kota suci yang padat oleh jutaan langkah manusia menuju sebuah kota pegunungan yang dikenal lebih tenang, lebih hijau, dan lebih sejuk. Kota ini terletak sekitar 99 kilometer di tenggara Makkah, berada di Provinsi Makkah, di lereng Pegunungan Sarawat atau Hijaz. Ketinggiannya mencapai sekitar 1.700 hingga 1.879 meter di atas permukaan laut. Karena letaknya yang tinggi inilah udara Thaif jauh lebih sejuk dibandingkan Makkah atau Riyadh. Tak heran jika kota ini sering dijuluki sebagai “Ibu Kota Musim Panas” Arab Saudi.

Namun daya tarik Thaif tidak hanya pada iklimnya. Kota ini juga dikenal sebagai salah satu wilayah pertanian subur di tengah dominasi lanskap gurun Saudi Arabia. Di sini tumbuh kebun-kebun mawar yang terkenal hingga ke berbagai penjuru dunia, menghasilkan minyak wangi khas yang menjadi komoditas penting. Selain mawar, Thaif juga menghasilkan delima, anggur, madu, dan berbagai buah yang sulit ditemukan di wilayah lain yang lebih kering.

Tetapi bagi seorang Muslim, Thaif lebih dari sekadar kota yang sejuk atau subur. Kota ini adalah halaman sejarah yang menyimpan salah satu episode paling menyayat dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad ﷺ.

Setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib—dua sosok yang selama ini menjadi pelindung dan penguat beliau—Rasulullah ﷺ menghadapi masa yang sangat berat dalam perjuangan dakwahnya di Makkah. Tahun itu dikenal sebagai ‘Amul Huzn, tahun kesedihan. Dalam kondisi seperti itulah beliau memutuskan pergi ke Thaif, berharap menemukan dukungan baru bagi dakwah Islam.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Penduduk Thaif menolak beliau dengan keras. Bukan hanya penolakan kata-kata, tetapi juga penghinaan dan kekerasan. Anak-anak diperintahkan melempari beliau dengan batu hingga tubuh beliau terluka. Darah mengalir dari kaki Rasulullah ﷺ saat beliau berjalan meninggalkan kota itu.

Ketika membayangkan kisah itu dalam perjalanan menuju Thaif hari ini, dada terasa sesak. Bagaimana mungkin seseorang yang membawa rahmat justru diperlakukan dengan begitu kasar? Dan lebih dari itu, bagaimana mungkin seseorang yang disakiti sedemikian rupa masih mampu memilih untuk memaafkan?

Dalam riwayat disebutkan bahwa ketika malaikat menawarkan untuk menghancurkan penduduk Thaif dengan menimpakan dua gunung kepada mereka, Rasulullah ﷺ justru menolak. Beliau memilih berdoa agar kelak dari keturunan mereka lahir orang-orang yang beriman.

Itulah dakwah yang dibangun di atas kasih sayang.

Perjalanan dari Makkah menuju Thaif kami tempuh dengan taksi selama kurang lebih sembilan puluh menit. Jalanan berkelok mengikuti kontur pegunungan. Hamparan gunung batu menjulang di kanan kiri, membentuk panorama khas daratan Saudi Arabia yang keras namun indah.

Di tengah perjalanan, sesekali kami melihat kereta gantung melintas di atas lembah dan pegunungan. Itulah Telepherique yang menghubungkan kawasan Jabal Al-Hada dengan lembah di bawahnya. Dari kejauhan, kereta-kereta kecil itu tampak seperti titik-titik yang menggantung di udara.

Pemandangan itu indah, tetapi juga sedikit menimbulkan rasa ngeri.

Aku teringat cerita Ibu tentang insiden macetnya salah satu kereta gantung saat beliau menjalankan ibadah haji pada tahun 2023. Mendengar cerita itu dulu saja sudah membuat bulu kuduk berdiri, apalagi melihat langsung kereta gantung yang melintas di atas jurang berbatu seperti ini.

Destinasi pertama kami di Thaif adalah Masjid Ibnu Abbas.

Masjid ini dikenal juga dengan nama Masjid Abdullah bin Abbas, sebuah masjid bersejarah yang dibangun untuk mengenang sepupu Nabi Muhammad ﷺ sekaligus salah satu ulama tafsir terbesar dalam sejarah Islam: Abdullah bin Abbas.

Masjid ini pertama kali dibangun sekitar tahun 630 Masehi. Menariknya, masjid ini berdiri di lokasi bekas kuil Dewi Al-Lat, salah satu berhala yang dahulu disembah oleh Bani Thaqif sebelum mereka memeluk Islam. Setelah kota Thaif menerima Islam, kuil itu dihancurkan dan tempatnya diubah menjadi masjid.

Sebagian riwayat juga menyebutkan bahwa lokasi ini berkaitan dengan peristiwa pengepungan benteng Thaif pada masa Rasulullah ﷺ.

Ketika memasuki area masjid, suasana terasa cukup ramai. Para peziarah datang dari berbagai negara. Beberapa orang duduk membaca Al-Qur’an, sementara yang lain berjalan perlahan di sekitar halaman.

Di masa tuanya, Abdullah bin Abbas memilih menetap di Thaif. Kerendahan hatinya begitu terkenal. Ia merasa bahwa kota-kota suci seperti Makkah dan Madinah seharusnya dihuni oleh orang-orang yang benar-benar bersih hatinya. Karena itu ia memilih tinggal di Thaif.

Beliau wafat pada tahun 68 Hijriah atau sekitar tahun 687 Masehi dan dimakamkan di kompleks pemakaman di sisi timur masjid—area yang kini berada di dekat tempat salat perempuan.

Selain makam Ibnu Abbas, di kompleks pemakaman yang sama juga dimakamkan Muhammad bin Al-Hanafiyah, putra dari Ali bin Abi Thalib.

Bangunan masjid yang kami lihat hari itu memiliki arsitektur yang khas. Dinding-dinding batu kecokelatan berdiri kokoh, memberikan kesan seperti benteng tua yang bertahan melewati berabad-abad sejarah. Renovasi besar pada masjid ini tercatat pernah dilakukan pada tahun 592 Hijriah.

Selama berabad-abad, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Ia juga menjadi pusat pembelajaran agama. Banyak pencari ilmu datang untuk belajar, mengikuti jejak keilmuan Ibnu Abbas yang dikenal sebagai Habrul Ummah—ulama besar umat ini.

Di dalam kompleks masjid bahkan terdapat perpustakaan yang menyimpan berbagai literatur Islam penting.

Namun suasana religius itu tiba-tiba berpadu dengan sesuatu yang terasa sangat… Indonesia.

Tepat di seberang masjid, sebuah papan nama cukup besar langsung menarik perhatian kami:

Bakso Mang Oedin.

Nama yang begitu akrab di telinga orang Indonesia. Rasanya hampir sulit dipercaya menemukan warung bakso di kota bersejarah di pegunungan Saudi Arabia.

Ini memang pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tanah Thaif, tetapi cerita tentang tempat makan ini sudah sering kudengar dari para jemaah umrah sebelumnya.

Beberapa saat kemudian, tiga porsi bakso sudah tersaji di meja kami.

Semangkuk besar bakso dengan kuah panas yang mengepul langsung menggoda selera. Aroma bawang goreng dan kuah kaldu menguar ke udara. Rasanya seperti pulang sebentar ke Indonesia.

Suamiku yang sebenarnya bukan penggemar berat bakso hanya mencoba satu butir bakso. Selebihnya kami yang menikmati dengan penuh semangat.

Di tengah kota Arab, di dekat masjid bersejarah, kami makan bakso dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu yang terasa hangat—bukan hanya kuahnya, tetapi juga rasa kebersamaan yang muncul dari hal-hal sederhana.

Destinasi berikutnya adalah Masjid Addas.

Masjid kecil ini memiliki kisah yang sangat menyentuh. Ia dibangun untuk mengenang seorang budak Nasrani bernama Addas—orang pertama di Thaif yang beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Kisahnya terjadi setelah peristiwa penolakan dan pelemparan batu terhadap Rasulullah ﷺ.

Dalam kondisi terluka, Rasulullah ﷺ beristirahat di sebuah kebun anggur milik Utbah dan Syaibah bin Rabiah. Kedua pemilik kebun itu kemudian memerintahkan Addas untuk membawakan setangkai anggur kepada beliau.

Ketika Nabi Muhammad ﷺ hendak memakannya, beliau mengucapkan:

“Bismillah.”

Addas terkejut. Kalimat itu tidak biasa ia dengar dari orang-orang Thaif.

Percakapan pun terjadi. Ketika Nabi menyebut Nabi Yunus dari Niniwe—kota asal Addas—budak itu semakin takjub. Ia menyadari bahwa orang yang berbicara di hadapannya bukanlah manusia biasa.

Addas kemudian mencium tangan dan kaki Rasulullah ﷺ dan menyatakan keimanannya.

Satu hati yang terbuka di tengah penolakan sebuah kota.

Ketika kami tiba di lokasi Masjid Addas, ternyata masjid itu sedang dalam proses renovasi. Pintu masuk ditutup sehingga kami tidak dapat masuk ke dalam.

Namun di sekitar area itu terdapat beberapa penjual buah. Mereka menawarkan jambu, anggur, dan buah sidr.

Karena penasaran, kami membeli satu bungkus sidr seharga lima riyal. Buahnya kecil berwarna hijau, ukurannya kira-kira sebesar kepalan tangan anak kecil.

Rasanya unik—seperti anggur tetapi dengan tekstur renyah menyerupai apel.

Perjalanan kemudian berlanjut meninggalkan Thaif menuju kawasan Arafah dan Muzdalifah.

Namun banyak jalan yang ditutup.

Termasuk akses menuju Jabal Rahmah.

Ternyata pemerintah Saudi sedang melakukan berbagai pembangunan infrastruktur untuk persiapan musim haji tahun ini.

“Setiap saat ada tambahan jalan,” ujar sopir kami dari balik kemudi.

“Penutupan jalan ini karena pembangunan jalan baru.”

Rencana awal kami sebenarnya ingin mengambil miqat di Ji’ranah. Namun karena panas yang semakin terik dan banyaknya jalan yang ditutup, kami akhirnya memutuskan untuk mengambil miqat di Masjid Aisha di Tan’im.

Setelah mengenakan ihram dan berniat umrah, kami kembali menuju Masjidil Haram.

Bakda Ashar kami memulai tawaf.

Tidak sepadat hari Jumat sebelumnya, tetapi tetap penuh oleh lautan manusia. Kami berjalan dalam formasi satu-satu—strategi sederhana yang cukup efektif ketika tawaf dalam kerumunan padat.

Putaran demi putaran kami lalui.

Pada putaran kedua sa’i, azan Maghrib berkumandang.

Kami sempat menunggu sekitar sepuluh menit sambil melanjutkan langkah. Ketika iqamah dikumandangkan, kami segera mencari shaf untuk melaksanakan salat Maghrib berjamaah.

Usai tahallul, rasa lelah mulai terasa nyata.

Tubuh terasa berat. Kaki seperti kehilangan tenaga.

Apalagi ketika melihat wajah anak gadisku yang tampak semakin pucat. Hari itu kami memang melewatkan makan siang.

Namun di tengah kelelahan itu ada rasa syukur yang sangat dalam.

Allah memberikan kekuatan untuk menuntaskan umrah hari itu.

“Aku nyambung sampai Isya,” ujar anak bujangku sebelum bergegas kembali ke area mathaf.

“Salat di mana, Dek?” tanyaku ketika ia kembali ke kamar masih dengan baju ihram.

“Di depan Multazam,” jawabnya dengan wajah ceria.

Anak gadisku kemudian berkata pelan,

“Aku tadi pas tawaf rasanya pengap… susah bernapas. Tawaf itu melelahkan, tapi terasa intim.”

Aku tersenyum mendengarnya.

Memang begitulah tawaf.

Ia melelahkan secara fisik, tetapi sekaligus menghadirkan kedekatan spiritual yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Ketika malam semakin larut dan lampu kamar mulai diredupkan, tibalah saatnya memberikan penghargaan kecil kepada tubuh yang telah bekerja keras hari itu.

Vitamin diminum.

Counterpain dioleskan.

Aromaterapi Safe and Care disapukan.

Koyo ditempelkan di beberapa titik tubuh.

Dan tak lama kemudian, aroma khas Indonesia memenuhi udara kamar hotel.

Kami tertawa kecil.

Di tanah suci yang jauh dari rumah, ternyata hal-hal sederhana seperti aroma obat gosok pun bisa menghadirkan rasa hangat yang begitu akrab.

Hari itu panjang. Penuh perjalanan. Penuh pelajaran.

Dari luka dakwah Rasulullah ﷺ di Thaif… hingga langkah-langkah kecil kami mengelilingi Ka’bah.

Dan di penghujung hari, satu kalimat yang paling layak diucapkan hanyalah:

Alhamdulillah ya Allah, atas segala nikmat-Mu hari ini.


Makkah al Mukarromah, 31 Januari 2025


Post a Comment

0 Comments