Haymarket pagi itu bersuhu 15 derajat. Angin dingin berhembus lebih tegas dari hari sebelumnya, menyusup ke sela-sela pakaian dan membuat kami refleks mengeratkan pelukan pada diri sendiri. “Bbrrrr… lebih dingin dari kemarin,” gumamku. Musim semi di Sydney memang kerap penuh paradoks: matahari bersinar, tetapi udara masih menyimpan sisa-sisa dingin musim dingin yang enggan sepenuhnya pergi.
Misi kami hari ini sederhana namun sarat makna: eksplorasi kampus anak gadis kami—ruang-ruang yang telah ia tempati, jalani, dan hidupi selama dua tahun terakhir. Ia ingin menunjukkan sudut-sudut kampus tempat ia belajar, bertemu teman, menunggu kelas, menepi saat lelah, dan mungkin diam-diam bertumbuh menjadi dirinya yang sekarang.
Kami berjalan beriringan mengikuti arus pejalan kaki di hari pertama pekan itu. Rush hour sudah terlampaui, meski denyut kota belum sepenuhnya melambat.
“Bus stop di Central tidak sepadat ketika rush hour,” komentar anak bujang.
Ia berbicara dengan nada informatif, seolah sudah lama mengenal ritme kota ini.
Sementara aku dan suami masih enggan keluar kamar karena dingin pagi yang menusuk, anak bujang kami justru sudah lebih dulu mengeksplorasi sisi-sisi Sydney sejak awal hari. Ia melangkah mantap menyusuri trotoar yang ramah pejalan kaki, mengamati orang-orang yang berlalu-lalang, menyaksikan sisa-sisa rush hour di The Harbour City yang baru 2 hari ia pijak. “Nda ada orang jalan santai kalau pas rush hour, Ma,” ucapmu, seolah memberi catatan etnografis kecil tentang kota ini.
Rush hour bukan sekadar jam sibuk—ia adalah irama keberangkatan dan kepulangan, tanda kehidupan urban yang bergerak teratur namun tak pernah benar-benar berhenti.
Kami naik bus menuju The University of Sydney. Transportasi publik di kota ini terintegrasi rapi dengan aplikasi Google Maps. Cukup tentukan tujuan, maka seluruh kemungkinan moda transportasi muncul di layar: bus, kereta, metro, atau light rail (tram). Lengkap dengan nomor bus, estimasi waktu kedatangan, bahkan kondisi riil—apakah penuh atau masih tersedia tempat duduk. Informasi pemberhentian sesuai tujuan pun ada di genggaman. Sebuah pelayanan publik yang bukan hanya efisien, tetapi juga terasa menghargai waktu dan kenyamanan penggunanya.
Kami turun di bus stop Victoria Park, tepat di depan gerbang University of Sydney. Di hadapan kami berdiri kampus riset publik tertua di Australia, didirikan pada tahun 1850. University of Sydney bukan hanya institusi pendidikan; ia adalah lanskap sejarah, arsitektur, dan pengetahuan yang saling bertaut. Bangunan batu pasir neo-Gotiknya berdiri anggun, seolah menjadi saksi bisu perjalanan generasi demi generasi pencari ilmu.
Kampus utama yang terletak di Camperdown dan Darlington ini terasa hidup. Ruang hijau membentang, mahasiswa berlalu-lalang dengan ransel dan kopi di tangan, dan bangunan-bangunan bersejarah berdampingan dengan fasilitas modern. Aksesnya pun mudah—bahkan hanya berjalan kaki singkat dari Stasiun Redfern. Kampus ini bukan menara gading yang terpisah dari kota, melainkan bagian organik dari denyut Sydney itu sendiri.
Quardrangle (The Quad)
Memasuki area kampus, kami disambut kemegahan Main Quadrangle—atau yang akrab disebut The Quad. Kompleks bangunan ikonik ini adalah jantung sekaligus simbol University of Sydney. Di sinilah Great Hall berada, aula megah tempat wisuda, ujian besar, dan acara-acara resmi universitas berlangsung. Bangunannya berbentuk segi empat dengan hamparan rumput hijau di tengah, pintu masuk utama berada di bawah menara jam yang menjulang.
Tak heran jika banyak orang menyamakannya dengan Hogwarts. Aura historis dan megahnya membuat The Quad menjadi magnet wisata sekaligus ruang favorit mahasiswa—untuk bersantai, berdiskusi, atau mengabadikan momen kelulusan. Saat kami tiba, beberapa rombongan wisatawan sibuk berfoto dan merekam video. Ada pula sesi pemotretan yang tampak sangat “niat”, lengkap dengan kostum model dan perangkat fotografi profesional.
Keluar dari The Quad melalui pintu yang berlawanan dengan menara jam, kami melihat dua patung singa berdiri gagah di kanan-kiri pintu.
“Waaah, Arema cabang USyd,” ucapku spontan, disambut tawa kecil yang menghangatkan suasana dingin pagi itu.
Perjalanan berlanjut ke Graffiti Tunnel—terowongan grafiti yang unik. Di sinilah seni jalanan diberi ruang legal untuk hidup. Dinding-dindingnya penuh warna, pesan, kritik sosial, dan ekspresi kreatif yang terus berubah. Universitas bahkan mengakuinya sebagai “karya seni hidup”. Tidak ada satu wajah tetap di terowongan ini; ia selalu bertransformasi, seperti mahasiswa yang melaluinya setiap hari.
Kami kemudian tiba di Manning House, gedung mahasiswa yang ikonik dan bersejarah. Bangunan ini menjadi pusat sosial mahasiswa—menaungi kantor University of Sydney Union (USU), berbagai gerai makanan, dan ruang pertemuan. Menariknya, Manning House awalnya dibuka pada tahun 1917 sebagai ruang eksklusif bagi Women’s Union. Pada masa itu, mahasiswa laki-laki bahkan dilarang masuk, kecuali untuk urusan pemeliharaan. Sebuah jejak sejarah tentang perjuangan ruang dan pengakuan bagi perempuan di dunia akademik.
Gedung ini dinamai Sir William Montague Manning, rektor universitas yang membuka pintu bagi mahasiswa perempuan untuk mendaftar pertama kali pada tahun 1881. Sejarah itu terasa relevan—terutama saat aku berdiri di sana sebagai seorang ibu, ditemani anak gadis yang kelak akan diwisuda.
“Besok mama, papa, sama dedek makan siang di sini ya,” ujar anak gadisku, sambil menjelaskan teknis acara wisuda esok hari.
“Ada nasi lemak di PappaRich,” lanjutmu, matanya berbinar kecil.
Di tengah kampus Australia, hidangan Malaysia itu seolah menjadi pengikat rasa rumah, kenangan Asia Tenggara, dan identitas yang tak pernah benar-benar ditinggalkan.
Kampus: Tempatmu Bertumbuh
“Nduk, tempat kuliahnya Kak Fi di mana?” tanyaku setelah kami puas menyusuri sudut-sudut kampus Sydney.
“Bentar, Ma… ke sana atau ke arah sana, ya?” jawabmu sambil memicingkan mata, memetakan kampus yang sudah dua tahun kau jelajahi tapi kini terasa seperti labirin tiba-tiba.
Aku tersenyum kecil. Ah, ternyata ada bakat yang benar-benar menurun dariku: buta arah. Kami berdua hanya paham kanan-kiri. Jangan sekali-kali bertanya di mana barat dan timur—itu bukan ranah kecerdasan kami. Membaca Google Maps sebagai navigator di samping pengemudi saja bisa membuatku deg-degan. Tidak hanya sekali atau dua kali kami tersesat karena aku gagal membaca peta digital. Salah keluar pintu tol, terlewat gang yang seharusnya belok, salah memilih lajur kanan atau kiri, hingga akhirnya harus putar balik lebih jauh dan memakan waktu lebih lama. Kadang kami tertawa lepas setelahnya, kadang hanya bisa menghela napas panjang sambil menenangkan hati.
“Ke arah sana, Ma,” katamu akhirnya, langkahmu yang panjang memimpin kami menuju gedung kuliahmu.
Di hadapan kami berdiri sebuah gedung tiga lantai dengan lima pilar kokoh di bagian depan. Tulisan Faculty of Education — 1993 terpampang jelas.
“Musim ujian, sudah tidak ada perkuliahan,” jelamu, sambil menunjuk lift menuju lantai tiga.
Kami tiba di salah satu ruang kuliah model teater. Kursi-kursinya berderet rapi, proyektor dan sistem audio terpasang rapi. Ruang yang sunyi itu terasa menyimpan banyak cerita.
Aku teringat foto-foto kecil yang kau kirim beberapa bulan lalu: alas salat yang kau bentangkan di pojok ruangan berkarpet, disertai pesan singkat, “Barusan salat, Ma. Habis ini masuk kelas lagi.” Kalimat sederhana itu selalu menghangatkan dadaku. Aku tahu, ada perjuangan kecil yang diam-diam kau lakukan setiap hari: menjaga diri, menjaga iman, di tengah lingkungan yang serba baru.
Kami kemudian turun kembali ke lantai dua, memasuki ruang komunal. Ruangan itu berisi beberapa set meja dan kursi, dengan jendela besar yang menghadap pepohonan rimbun di luar. Cahaya alami menembus masuk, menciptakan suasana hangat meskipun udara di luar dingin menggigit. Di sudut ruangan ada pantry dengan kitchen set kecil, wastafel, kulkas, dan microwave—fasilitas sederhana namun lengkap untuk mahasiswa yang sering menghabiskan waktu di kampus dari pagi sampai sore.
Di sinilah kau beberapa kali mengirimkan fotomu:
“Baru selesai diskusi sama teman, Ma. Mau makan dulu.”
Kadang disertai foto bekal sederhana yang kau bawa dari apartemen—membuatku tersenyum lega karena aku tahu kau tetap menjaga diri dengan baik.
Di lain waktu, kau mengirimkan foto jendela besar yang berembun, dengan hujan tipis membasahi pepohonan di luar. Aku membayangkan kau duduk di salah satu kursi itu, memandangi langit Sydney yang abu-abu sambil menata pikiran antara satu tugas dan tugas lainnya.
Kini, aku berdiri di tempat-tempat itu.
Tempat kau belajar mandiri.
Tempat kau menangis diam-diam saat rindu rumah tiba-tiba menikam.
Tempat kau tumbuh.
Dan aku akhirnya melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.
Ada perasaan haru yang sulit diurai kata-kata.
Bahwa anakku—yang dulu selalu menggenggam tanganku saat menyeberang jalan—kini berjalan di depanku, memimpin arah, bahkan ketika arah itu kadang masih salah dan harus dipikir dua kali.
Aku menyadari, perjalanan ini bukan sekadar menemukan gedung dan ruangan.
Ini adalah perjalanan menemukan bagaimana ia menjadi dewasa.
Di gedung dengan pilar-pilar kokoh ini, di ruang komunal yang sederhana, di kota yang jauh dari Indonesia—seorang anak perempuan telah bertumbuh menjadi seseorang yang kami banggakan.
Jacaranda dan Waktu yang Diam-diam Berjalan
Langkah kami ditutup dengan singgah di bawah pohon jacaranda. Bunga ungu ikonik ini menjadi simbol kampus USyd, terutama saat musim semi.
“Minggu lalu masih lebat bunganya, Ma. Sekarang sudah mulai berguguran,” katamu, sedikit sayang namun tetap antusias.
Jacaranda memang bukan tanaman asli Australia—ia berasal dari Amerika Selatan. Namun seperti anak-anak perantau, ia tumbuh subur di tanah baru, memberi warna, lalu menjatuhkan bunganya dengan anggun.
Aku menatap bunga-bunga itu jatuh pelan ke tanah. Lalu menatapmu.
diam-diam, pelan, tapi pasti.
Bayi yang dulu kupeluk erat kini berjalan di depanku, memberi arah—meskipun kadang arah itu masih salah dan perlu dipikir ulang. Tapi melihatmu memimpin langkah saja sudah cukup membuatku bangga.
Di bawah jacaranda yang mulai meranggas itu, aku menyadari: eksplorasi hari ini bukan sekadar tur kampus. Ia adalah perjalanan menyusuri waktu—melihat jejak tumbuh seorang anak, menyentuh ruang-ruang yang membentuknya, dan merayakan proses panjang menuju sebuah hari bernama wisuda.
Haymarket Sydney, 10 November 2025





0 Comments