13 derajat celcius.
Pagi itu terasa lebih dingin dari hari-hari sebelumnya di Madinah. Angin tipis berhembus pelan, tetapi cukup untuk menembus lapisan pakaian yang kami kenakan. Dingin itu mengingatkanku pada musim mbediding di kampung halaman beberapa bulan lalu—ketika udara pagi menggigit kulit dan membuat orang enggan beranjak dari selimut.
Tetapi di kota ini, dingin tidak pernah benar-benar menjadi alasan untuk berhenti melangkah.
Sejak sebelum Subuh, kami sudah bersiap keluar hotel. Baju berlapis, syal yang melilit leher, dan kaos kaki tebal menjadi “alat tempur” sederhana menghadapi udara Madinah yang menusuk. Jalan menuju Masjid Nabawi masih dipenuhi langkah para peziarah dari berbagai penjuru dunia. Langkah-langkah yang sama tujuannya: mencari keberkahan di kota Nabi.
Angin berhembus sesekali sepanjang salat Subuh berjamaah. Dingin itu terasa di ujung jari dan wajah, tetapi anehnya tidak terlalu mengganggu. Ada sesuatu yang menghangatkan dari dalam: lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca Imam pagi itu.
Setiap ayat seakan menjadi selimut ruhani. Menghangatkan hati dengan cara yang tidak dapat dijelaskan oleh suhu udara.
Di masjid ini, dingin dan hangat seringkali bertukar tempat. Udara boleh menusuk kulit, tetapi hati justru terasa semakin lapang.
Bakda Subuh, kami memiliki satu tujuan yang sudah lama dinanti: mengantarkan anak gadisku menuju Raudhah.
Area di sekitar pintu 37 sudah dipenuhi jamaah perempuan dari berbagai negara. Wajah-wajah penuh harap berdiri dalam antrian panjang yang berkelok-kelok seperti aliran sungai manusia. Ada yang membaca Al-Qur’an, ada yang berzikir pelan, ada pula yang sekadar menatap ke depan sambil menggenggam tas kecil di dadanya.
Raudhah memang selalu seperti ini: tempat yang kecil, tetapi kerinduan yang mengantre menuju ke sana begitu besar. Kami berjalan bersama sampai gerbang antrian. Tiba-tiba anak gadisku berkata singkat,
“HP-ku lowbat, Ma.”
Kalimat sederhana itu langsung membuat pikiranku berlari ke berbagai kemungkinan.
Ya Allah, ujian apa lagi ini.
Di tempat seperti ini, ponsel sering menjadi satu-satunya alat komunikasi ketika terpisah di tengah lautan manusia. Tanpanya, pertemuan kembali seringkali hanya bergantung pada takdir dan kesepakatan sederhana.
Aku menatap wajahnya, mencoba menenangkan diri sebelum menenangkan dirinya.
“Bismillah bisa masuk Raudhah. Dimudahkan,” ucapku menyemangati.
Kalimat itu sebenarnya bukan hanya untuknya. Itu juga untuk diriku sendiri. Ia mengangguk, lalu bersiap masuk ke barisan yang semakin padat. Sebelum ia benar-benar menghilang dalam antrian, aku berkata,
“Mama nunggu di tempat yang lurus kubah hijau ya.”
Ia mengangguk sekali lagi. Lalu ia berjalan pergi. Perlahan, tubuh kecil itu tenggelam di antara jamaah perempuan yang bergerak maju sedikit demi sedikit.
Menunggu.
Di Tanah Suci, menunggu seringkali menjadi bagian dari ibadah.
Aku berdiri di area yang masih sejajar dengan kubah hijau. Kubah yang setiap hari menjadi penanda arah bagi jutaan langkah manusia. Kubah yang berdiri tenang di atas makam Rasulullah ï·º, seolah menjadi pusat gravitasi kerinduan umat.
Waktu berjalan pelan.
Jamaah perempuan mulai keluar dari area Raudhah. Wajah-wajah mereka tampak berbeda ketika keluar dibandingkan saat masuk. Ada yang menangis, ada yang tersenyum, ada yang tampak terdiam lama seolah masih menahan getaran doa yang baru saja mereka panjatkan.
Aku terus mengamati setiap wajah yang keluar. Mencari satu wajah yang sangat kukenal. Satu wajah yang belum juga muncul.
Sepuluh menit berlalu.
Dua puluh menit.
Tiga puluh menit.
Empat puluh menit.
Antrian masih bergerak, tetapi aliran jamaah yang keluar mulai berkurang. Aku tetap berdiri di tempat yang sama. Sesekali melihat ke arah kubah hijau, seolah meminta ketenangan dari kehadirannya yang teduh.
Lima puluh menit berlalu.
Enam puluh menit.
Anak gadisku belum juga terlihat. Perlahan suasana berubah. Asykar—petugas keamanan masjid—mulai menyeterilkan area masuk dan keluar antrian Raudhah. Mereka meminta jamaah yang tidak berkepentingan untuk mundur dari area tersebut.
Kerumunan mulai bergerak menjauh. Aku masih berdiri sebentar, mencoba memastikan apakah ia sudah keluar tanpa kulihat, atau justru masih berada di dalam. Namun semakin lama semakin jelas: area itu akan segera ditutup.
Di tengah kerumunan yang mulai bubar, aku menahan napas sejenak.
“Bismillah ya Allah,” bisikku dalam hati.
“Bila dia masih di dalam, tuntun dia keluar dengan aman. Bila dia sudah keluar dan tidak menemukanku, tuntun langkahnya pulang.”
Dalam perjalanan spiritual seperti ini, seringkali yang kita pegang bukan lagi kepastian, tetapi kepercayaan. Kepercayaan bahwa setiap langkah yang diniatkan untuk mendekat kepada Allah akan dijaga oleh-Nya. Aku akhirnya melangkah meninggalkan area masjid.
“Bismillah ya Allah,” bisikku lagi.
“Tuntun dia keluar dengan aman dan selamat. Mama tunggu di hotel, Nduk.”
Doa itu terasa seperti melepas sesuatu dari genggaman. Kadang-kadang kita memang harus belajar melepaskan, agar Tuhan mengambil alih penjagaan. Jarak dari masjid ke hotel sebenarnya sangat dekat. Hanya sekitar lima menit berjalan kaki. Tetapi langkahku terasa lebih panjang dari biasanya.
Pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan kecil:
Apakah ia sudah keluar lebih dulu?
Apakah ia masih di dalam Raudhah?
Apakah ia mencari tempat yang berbeda dari yang kami sepakati?
Namun di sela semua pikiran itu, ada satu kalimat yang terus berulang dalam hati:
Allah yang mengundang.
Allah pula yang menjaga.
Begitu sampai di hotel, aku baru saja menginjakkan kaki di lantai 2 setelah menyusuri beberapa anak tangga. Dan tiba-tiba—
“Ma!”
Suara itu datang dari belakang. Aku menoleh. Di sana, berdiri anak gadisku. Ia sudah ada di depanku. Wajahnya terlihat tenang. Tidak panik, tidak bingung. Seolah semuanya berjalan biasa saja. Sejenak aku terdiam.
Satu menit sebelumnya aku baru saja melangitkan doa agar ia dituntun pulang dengan selamat. Dan sekarang, ia sudah berdiri di depan mata.
Secepat itu.
Sehening itu.
Seindah itu.
“Alhamdulillah ya Allah,” bisikku pelan.
Kadang-kadang jawaban doa tidak datang dengan cara yang dramatis. Ia datang begitu sederhana, begitu dekat, begitu cepat—hingga kita hampir tidak menyadari bahwa itu adalah jawaban. Di kota ini, peristiwa-peristiwa kecil sering berubah menjadi pelajaran besar.
Bahwa rencana manusia seringkali penuh kecemasan. Tetapi rencana Allah selalu penuh penjagaan.
Pagi itu, di depan kubah hijau yang teduh, aku belajar satu hal lagi:
Ketika kita tidak lagi bisa mengandalkan sinyal, peta, atau ponsel yang menyala, selalu ada satu “koneksi” yang tidak pernah lowbat.
Doa.
Dan di Madinah, doa terasa selalu menemukan jalannya pulang.
Madinah al Munawwarah, 4 Februari 2026

.jpeg)
0 Comments