Merajut Ukhuwah di Bulan Penuh Berkah: Refleksi dari Buka Bersama PWNU Jawa Timur

Ramadhan selalu memiliki cara unik untuk mempertemukan hati. Di bulan yang penuh rahmat ini, orang-orang berkumpul bukan sekadar untuk berbagi hidangan berbuka, tetapi juga untuk memperkuat ikatan batin, memperbarui niat, dan meneguhkan kembali arah perjuangan. Suasana seperti itulah yang terasa dalam acara buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur pada Ahad, 15 Maret 2026, di Ballroom Hadratussyekh KH M. Hasyim Asy’ari, Gedung PWNU Jatim, Surabaya.

Mengusung tema “Merajut Ukhuwah, Menguatkan Jam’iyah,” kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia menjadi ruang perjumpaan—ruang di mana para ulama, pejabat, pengurus organisasi, dan masyarakat duduk dalam satu majelis yang sama. Sekitar lima ratus orang hadir, membentuk sebuah panorama kebersamaan yang jarang terlihat dalam kehidupan sehari-hari yang sering kali dipenuhi kesibukan masing-masing.

Di antara para tokoh yang hadir tampak Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH. Miftachul Akhyar; Rais PBNU Prof. Dr. KH. Mohammad Nuh; Sekretaris Jenderal PBNU sekaligus Menteri Sosial, H. Saifullah Yusuf; Bendahara Umum PBNU H. Gudfan Arif; Gubernur Jatim yang diwakili Asisten 3 Sekdaprov Jatim Dr. Akhmad Jazuli, serta berbagai tokoh daerah. Hadir pula perwakilan pemerintah daerah Jawa Timur, jajaran Forkopimda, para konsul jenderal dari Jepang dan Tiongkok, hingga Wali Kota Malang Wahyu Hidayat. Kehadiran beragam unsur ini menunjukkan satu hal penting: Nahdlatul Ulama bukan hanya organisasi keagamaan, tetapi juga simpul sosial yang mempersatukan berbagai elemen masyarakat.

Namun, di balik keramaian itu, yang paling terasa adalah suasana kehangatan. Ramadhan seolah menanggalkan sekat-sekat formalitas. Para tokoh duduk berdampingan dengan para pengurus daerah dan para tamu undangan. Percakapan berlangsung santai, senyum saling bertukar, dan suasana penuh keakraban.

Ketua PWNU Jatim, KH. Abdul Hakim Mahfudz, dalam sambutannya mengingatkan bahwa sejak awal berdirinya, Nahdlatul Ulama memang dimaksudkan sebagai wadah silaturahim. Organisasi ini tidak hanya menjadi institusi keagamaan, tetapi juga ruang berkumpulnya umat—tempat bertemunya gagasan, pengalaman, dan harapan.

Menurut beliau, kebersamaan seperti ini bukan sekadar tradisi sosial, melainkan bagian dari perintah agama. Dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan umat Islam untuk berpegang teguh pada tali-Nya dan tidak bercerai-berai. Ayat itu menjadi fondasi spiritual bagi semangat ukhuwah yang selama ini dijaga oleh warga NU.

Di Jawa Timur, pesan itu terasa sangat relevan. Dengan jumlah warga Nahdlatul Ulama yang sangat besar—bahkan diperkirakan mencapai mayoritas masyarakat—tanggung jawab sosial organisasi ini menjadi semakin besar pula. NU tidak hanya hadir untuk warganya sendiri, tetapi juga untuk masyarakat luas. Khidmah kepada umat menjadi panggilan yang terus dihidupkan.

Buka puasa bersama ini pun menjadi simbol sederhana dari komitmen tersebut. Ia mungkin hanya sebuah pertemuan singkat menjelang azan maghrib, tetapi maknanya jauh melampaui hidangan yang tersaji di meja.

Salah satu bagian yang paling menggugah dari acara ini adalah taujihat yang disampaikan oleh KH. Miftachul Akhyar. Dengan gaya yang tenang namun penuh makna, beliau mengajak hadirin untuk melihat Ramadhan dari sudut pandang sejarah peradaban Islam.

Sering kali, kata beliau, puasa dianggap membuat seseorang lemah. Banyak orang membayangkan bahwa menahan lapar dan haus akan mengurangi energi dan produktivitas. Namun sejarah Islam justru menunjukkan hal yang sebaliknya.

Banyak peristiwa besar yang terjadi pada bulan Ramadhan. Di antaranya adalah Perang Badar, kemenangan monumental umat Islam di masa awal dakwah Nabi. Lalu ada pula Fathu Makkah, pembebasan kota Makkah yang menjadi titik balik penting dalam sejarah Islam.

Bahkan pada tahun-tahun berikutnya, berbagai momentum besar juga terjadi pada bulan yang sama: ekspedisi Tabuk, penyebaran Islam di Yaman, dan berbagai peristiwa lain yang menunjukkan bahwa Ramadhan bukan bulan kelemahan, melainkan bulan kekuatan spiritual.

Pesan ini terasa sangat relevan bagi umat Islam hari ini. Ramadhan seharusnya tidak dipahami hanya sebagai bulan ibadah individual, tetapi juga sebagai momentum kebangkitan moral dan sosial.

Untuk memperdalam makna itu, Rais Aam PBNU kemudian mengisahkan dialog menarik antara Khalifah Umar bin Khattab dan seorang sahabat muda yang dikenal memiliki kecerdasan spiritual, yaitu Ubay bin Ka'ab.

Suatu hari, Umar bertanya tentang makna ayat puasa dalam Al-Qur’an: “Kutiba ‘alaikumus shiyam… la’allakum tattaqun.” Ubay menjawab dengan sebuah analogi sederhana. Ia bertanya kepada Umar: pernahkah Amirul Mukminin berjalan di jalan yang penuh duri?

Umar menjawab, pernah.

Lalu apa yang beliau lakukan?

Umar menjawab, beliau mengangkat pakaiannya dan berjalan dengan penuh kehati-hatian agar tidak terkena duri.

Ubay kemudian berkata: itulah makna takwa.

Kisah singkat ini memberikan gambaran yang sangat indah tentang esensi Ramadhan. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi melatih manusia untuk berjalan dengan hati-hati dalam kehidupan. Dunia ini penuh dengan “duri”—godaan, kesalahan, dan dosa. Takwa adalah kemampuan untuk melangkah dengan kesadaran agar tidak terluka oleh duri-duri tersebut.

Menjelang waktu berbuka, suasana di ballroom semakin terasa khidmat. Doa pembuka dibacakan oleh KH. Abd Matin Djawahir, sementara doa penutup dipimpin oleh KH. Anwar Manshur. Di antara doa-doa itu, para hadirin duduk dalam keheningan yang penuh makna.

Ketika azan maghrib akhirnya berkumandang, setiap orang berbuka dengan hidangan yang sudah disiapkan. Momen sederhana itu terasa sangat dalam: ratusan orang berbuka bersama, dalam satu ruang, dalam satu semangat, dalam satu harapan.

Di sela-sela acara, juga dilakukan penyerahan cinderamata kepada Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, atas kontribusinya dalam mendukung Mujahadah Kubro NU Jawa Timur yang sebelumnya digelar di Kota Malang. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh H. Saifullah Yusuf.

Gestur kecil ini menunjukkan bagaimana kerja sama antara organisasi keagamaan dan pemerintah dapat membangun sinergi yang positif bagi masyarakat.

Pada akhirnya, buka puasa bersama ini meninggalkan sebuah pelajaran sederhana namun mendalam: kekuatan sebuah organisasi tidak hanya terletak pada struktur atau program kerjanya, tetapi pada kemampuan untuk menjaga kebersamaan.

Ukhuwah adalah energi yang tidak terlihat, tetapi sangat menentukan arah perjalanan sebuah jam’iyah. Tanpa ukhuwah, organisasi hanya menjadi struktur administratif. Tetapi dengan ukhuwah, ia berubah menjadi keluarga besar yang saling menopang.

Ramadhan memberikan kesempatan yang sangat berharga untuk merawat energi tersebut. Ia mengingatkan bahwa kekuatan sejati umat Islam bukan hanya pada jumlahnya, tetapi pada ketakwaan, persatuan, dan kesadaran spiritual yang dimiliki.

Mungkin itulah makna terdalam dari tema yang diangkat pada malam itu: Merajut Ukhuwah, Menguatkan Jam’iyah.

Karena pada akhirnya, sejarah besar selalu dimulai dari pertemuan-pertemuan sederhana—dari majelis kecil, dari doa yang tulus, dan dari hati-hati yang kembali disatukan oleh cahaya Ramadhan.

Surabaya, 15 Maret 2026


Post a Comment

0 Comments