Angka 18 derajat tertera di layar ponselku pagi itu. Angka yang dingin, tetapi anehnya terasa hangat di dada. Mungkin karena hari itu bukan hari biasa. Tanggal kembar 11–11, hari istimewa bagi putriku, dan sebuah penanda penting dalam perjalanan hidupnya: Completion Ceremony semester dua tahun 2025.
Sehari sebelumnya, dengan nada tenang putriku memberikan arahan teknis kepada kami.
“Ma, besok langsung ketemu di kampus ya jam 10. Kita foto-foto dulu di Quad. Setelah itu Mama, Papa, sama Dedek makan di Manning. Acara biasanya cuma sedia minum dan snack. Aku masuk duluan ke Great Hall. Mama, Papa ke tempat wisuda setelah makan siang. Dedek nunggu di Manning.”
Aku tersenyum mendengarnya. Di balik kalimat-kalimat praktis itu, aku membaca kematangan. Anak gadis yang dulu selalu menggenggam tanganku erat saat jalan bersama, kini memberi arahan dengan penuh percaya diri.
Bahkan sebelum jam digital menunjukkan pukul sembilan, kami bertiga sudah berdiri di bus stop. Menanti bus yang akan membawa kami menuju kampus tempatmu menuntut ilmu. Batik yang kami kenakan cukup mencolok di antara warga Sydney yang lalu-lalang dengan langkah cepat. Aku sempat berpikir, mungkin batik ini bukan sekadar pakaian, tapi pernyataan diam: kami datang dari jauh, membawa cerita, doa, dan cinta.
Menginjakkan kaki kembali di kampus ini, suasananya terasa berbeda. Lebih ramai, lebih hidup. Keluarga wisudawan datang dari berbagai penjuru dunia, bercampur dengan rombongan wisatawan yang menikmati kemegahan University of Sydney. Dari kejauhan, aku melihatmu—anak gadisku—berdiri anggun dengan toga dan topi wisuda. Kamera di tanganmu sibuk mengabadikan hari ini, dan ketika kau melihat kami, tanganmu melambai dengan antusias.
Kami berfoto di berbagai sudut ikonik. Tawa, pose canggung, dan mata yang sesekali berkaca-kaca. Di tengah keramaian itu, seorang wisatawan berkomentar singkat, “Malaysia.”
“Indonesia,” jawab suamiku cepat, sambil tersenyum.
Kami tertawa. Sudah kesekian kalinya kejadian serupa terulang, dan setiap kali pula kami merasa bangga mengoreksi.
Di bawah pohon jacaranda, kami berpisah. Putriku menuju Great Hall, sementara kami melangkah ke Manning, mengikuti panggilan perut yang tak mau kompromi. Namun pikiranku tertinggal bersamamu—melangkah masuk ke sebuah aula yang selama ini hanya kulihat dari foto dan cerita.
Great Hall bukan sekadar bangunan. Ia adalah saksi sejarah. Dibangun tahun 1859, bergaya Kebangkitan Gotik Victoria, dirancang oleh Sir Edmund Thomas Blacket, dan terinspirasi dari aula-aula megah Oxford dan Cambridge. Batu pasir khas Sydney, lantai marmer, atap kayu cedar dengan hammerbeam roof, jendela kaca patri yang rumit—semuanya memancarkan wibawa. Dua belas patung malaikat kayu berukir berdiri di antara balok-balok atap, memegang simbol seni dan sains, seolah memberkahi setiap insan yang belajar di bawah naungannya.
Hari itu, aula bersejarah ini menjadi ruang sakral bagi mimpi-mimpi yang diselesaikan.
Saat kami akhirnya memasuki Great Hall, alunan piano mengalun lembut dari sudut panggung. Kursi-kursi tamu mulai terisi. Wisudawan duduk di sayap kanan, tamu undangan di kiri. Enam baris terdepan ditempati perwakilan sponsorship dari berbagai negara—sebuah penanda bahwa perjalanan akademik ini juga merupakan hasil kepercayaan dan kolaborasi lintas bangsa.
Pesanmu masuk ke ponselku, “Mama sudah masuk? Wisudawan masih foto bersama di depan Quad ya, Ma.”
Menunggu selalu menjadi bagian dari peran orang tua: menunggu anak tumbuh, menunggu anak pulang, menunggu anak sampai.
Tak lama kemudian, rombongan wisudawan masuk. Toga-toga hitam itu bergerak serempak, dan suasana yang semula riuh berubah khidmat. Acara dibuka oleh Mr. Thommy Gatling, Head of International Agreements, Sydney Future Students. Sambutannya singkat, hangat, dan penuh makna.
“Kalian akan bersiap meninggalkan Sydney, tetapi ikatan di antara kalian dan kampus ini akan tetap terjalin.”
Kalimat sederhana, namun menghunjam. Sebab memang begitulah hidup: kita pergi, tapi selalu membawa bagian dari tempat yang pernah membentuk kita.
Prosesi berlanjut. Hingga akhirnya, Prof. Annamarie Jagose, Senior Deputy Vice-Chancellor and Provost, berdiri untuk menyerahkan sertifikat.
“Kalian datang dari negara dengan awalan seluruh alfabet A sampai Z. Hari ini, 134 mahasiswa menyelesaikan studi. Kalian semua adalah champions.”
Dan ketika namamu dipanggil, dunia seolah melambat. Tepuk tangan menggema, tapi yang kudengar hanya detak jantungku sendiri. Air mata menggenang, lalu jatuh tanpa bisa dicegah.
Alhamdulillah ya Allah.
Atas segala nikmat.
Atas kekuatan yang Engkau titipkan padanya.
Atas perjalanan dua tahun yang tidak selalu mudah—air mata, peluh, rindu, dan ketidaknyamanan—yang akhirnya bermuara pada hari ini.
Selamat ya, Nduk.
Semoga ilmu ini menjadi cahaya.
Semoga langkahmu selalu dalam keberkahan.
Dan semoga setiap pencapaianmu kelak selalu kau ingat sebagai buah dari doa yang tak pernah putus—doa seorang ibu, yang hari itu menangis bahagia di sebuah aula tua di belahan dunia lain.
Haymarket Sydney, 11 November 2025



0 Comments