Pukul satu dini hari waktu Mekkah. Langit masih gelap, tetapi Masjidil Haram tidak pernah benar-benar tidur. Cahaya lampu memantul di lantai marmer yang berkilau, sementara ribuan manusia dari berbagai penjuru dunia bergerak perlahan menuju satu titik yang sama: Ka’bah.
Malam itu kami memulai umrah pertama kami.
Kami memasuki pintu khusus jamaah umrah. Sejak beberapa tahun terakhir, pemerintah Arab Saudi menerapkan aturan yang cukup ketat: hanya jamaah laki-laki yang mengenakan pakaian ihram yang diperbolehkan memasuki area Mataf, pelataran utama di sekitar Ka’bah. Kebijakan ini mulai diberlakukan secara lebih disiplin sejak masa transisi pasca pandemi COVID-19 pada tahun 2022. Tujuannya sederhana tetapi penting: mengatur kepadatan manusia agar jamaah yang sedang tawaf dapat bergerak lebih aman.
Lantai dasar kini didedikasikan bagi jamaah yang sedang melaksanakan tawaf dalam keadaan ihram. Sementara jamaah yang tidak berihram diarahkan ke lantai atas Masjidil Haram untuk tawaf sunnah atau beribadah lainnya. Pada musim haji, aturan ini bahkan lebih ketat lagi—hanya jamaah yang memiliki izin resmi yang dapat memasuki area Mataf.
Malam itu, area tawaf tetap padat. Namun udara malam yang sejuk membuat suasana terasa lebih bersahabat.
Kami mulai berjalan menuju titik awal tawaf.
Titik itu ditandai oleh lampu hijau yang menempel di salah satu tembok putih masjid, sejajar dengan rukun Hajar Aswad. Di sanalah tawaf dimulai. Suamiku memberi isyarat kecil—mengangkat tangan kanan, mengarahkan telapak tangan ke arah Hajar Aswad, lalu membaca doa pembuka tawaf.
Isyarat sederhana itu menandai satu hal besar: putaran pertama mengelilingi rumah Allah dimulai.
Lalu kami berjalan.
Kami bergerak mengikuti gelombang manusia yang mengalir dari berbagai bangsa. Ada yang berkulit hitam legam dari Afrika, ada yang berwajah Asia Timur, ada yang tinggi besar dari Eropa, ada pula yang seperti kami—wajah Asia Tenggara yang tak terlalu menonjol di tengah lautan manusia.
Kami semua berjalan dalam arah yang sama: berlawanan dengan jarum jam.
Tujuh putaran mengelilingi Ka’bah.
Tidak ada irama yang sama dalam doa-doa yang dilantunkan. Ada yang membaca Al-Qur’an dengan suara lirih, ada yang berzikir pelan, ada yang berdoa dengan bahasa ibu masing-masing. Tetapi semua doa itu seolah bertemu di langit yang sama.
Aku sendiri tidak sepenuhnya ingat doa apa saja yang terucap malam itu. Yang kuingat hanya perasaan yang mengalir deras: rasa kecil di hadapan Yang Maha Besar.
Entah pada putaran ke berapa, kami mulai terpisah.
Suami dan anak bujang perlahan tertelan oleh arus manusia yang bergerak lebih cepat. Tinggallah aku dan anak gadisku.
Kugandeng tangannya erat.
Sesekali ia berjalan di belakangku sambil memegang salah satu bagian kain yang kupakai, seperti anak kecil yang takut tersesat di pasar yang terlalu ramai.
Lautan manusia semakin padat. Setiap langkah terasa seperti mengikuti irama gelombang.
Pada saat-saat seperti itu, tawaf bukan sekadar berjalan mengelilingi Ka’bah. Ia menjadi latihan kesabaran. Latihan menjaga keseimbangan. Latihan untuk tetap tenang di tengah arus yang tak selalu bisa kita kendalikan.
Akhirnya tujuh putaran selesai.
Kami perlahan menjauh dari Ka’bah untuk mencari tempat menunaikan salat sunnah dua rakaat. Tempat paling utama tentu saja di depan Multazam, area antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Namun malam itu, tempat tersebut sudah dipenuhi manusia dari segala arah.
Dengan postur rata-rata orang Asia yang tidak terlalu tinggi, menembus kerumunan itu hampir mustahil.
Kami memilih tempat yang lebih memungkinkan.
Usai salat, anak gadisku segera mengirim pesan di grup keluarga untuk memberi tahu lokasi kami.
Di Masjidil Haram, grup WhatsApp keluarga bisa menjadi alat navigasi yang jauh lebih penting daripada kompas.
Setelah minum air zamzam—yang entah mengapa selalu terasa lebih menyejukkan daripada air biasa—kami berempat akhirnya kembali berkumpul dan berjalan menuju Mas’a.
Tempat untuk melakukan sa’i.
Sa’i dimulai dari Bukit Shafa menuju Bukit Marwah, bolak-balik sebanyak tujuh lintasan. Sebuah perjalanan kecil yang menghidupkan kembali kisah besar: perjuangan Hajar mencari air untuk putranya, Ismail.
Tujuh lintasan itu terasa cukup panjang bagi tubuh yang baru saja menempuh perjalanan pesawat hampir sepuluh jam.
Tiga kali kami berhenti.
Sekadar meluruskan kaki. Sekadar meneguk air zamzam lagi. Sekadar mengumpulkan energi untuk melanjutkan langkah.
Akhirnya tahallul dilakukan.
Kami bergantian menggunting sedikit rambut sebagai tanda selesainya rangkaian umrah.
Ketika kami keluar dari area sa’i, jarum jam di salah satu menara ikonik Masjidil Haram belum tepat menunjukkan pukul empat pagi.
“Ke hotel atau nunggu Subuh?” tanya suamiku.
Kami saling menatap sebentar.
Jawabannya hampir bersamaan: menunggu Subuh.
Setelah ke kamar mandi dan berwudu, kami memilih duduk di pelataran masjid yang berkarpet. Udara dini hari terasa lembut. Tidak jauh dari tempat kami duduk, sekelompok burung dara berkumpul di area berpagar.
Mereka sibuk mematuk pakan.
Beberapa jamaah berhenti sejenak untuk melihatnya. Ada yang sekadar tersenyum, ada pula yang mengabadikan tingkah laku burung-burung itu dengan kamera ponsel.
Sebuah pemandangan kecil yang terasa damai di tengah tempat paling ramai di dunia.
Lalu adzan Subuh berkumandang.
Seolah dikomando oleh satu isyarat tak terlihat, burung-burung itu terbang berkelompok ke udara. Mereka berputar seperti sebuah parade kecil di langit Masjidil Haram, lalu berhenti tepat ketika adzan berakhir.
Pemandangan itu terasa seperti metafora yang indah.
Makhluk-makhluk kecil pun seolah tahu kapan harus berhenti dan tunduk.
Usai salat Subuh dan salat jenazah, sebuah “drama kecil” kembali terjadi.
Kami terpisah lagi.
Beberapa kali pesan dikirim di grup keluarga untuk memberi tahu lokasi masing-masing, tetapi tetap saja sulit bertemu. Arus manusia setelah salat Subuh bergerak seperti sungai besar yang baru saja dilepaskan dari bendungannya.
Kami berjalan mengikuti arus itu.
Aku dan anak gadisku termasuk golongan manusia yang tidak terlalu piawai membaca arah. Satu-satunya petunjuk kami hanyalah menara jam raksasa yang menyala hijau.
“Mana, Ma, hotelnya?” tanyanya dengan nada gelisah.
Dari kejauhan aku sebenarnya sudah melihat nama hotel kami di ujung bangunan. Tetapi pertanyaan berikutnya jauh lebih rumit: pintu sebelah mana yang harus dimasuki agar bisa sampai ke kamar?
Lalu sebuah pesan masuk di grup keluarga.
“Papa di depan pintu masuk. Bukan yang nomor dua ya.”
Petunjuk yang sederhana, tetapi pada saat itu terasa seperti koordinat GPS paling berharga di dunia.
Jangan bayangkan bagaimana nada suaraku saat akhirnya kami saling menelepon. Campuran antara lelah, lapar, dan sedikit ketidaksabaran.
Perjalanan sepuluh jam pesawat.
Tawaf tujuh putaran.
Sa’i tujuh lintasan.
Lautan manusia setelah Subuh.
Dan perut yang mulai bernyanyi lagu keroncong.
Semua berpadu menjadi satu.
Namun di tengah semua itu, satu kalimat tetap terasa paling tepat untuk diucapkan:
Alhamdulillah ‘ala kulli haal.
Segala puji bagi Allah dalam setiap situasi.
Sore harinya, setelah salat Ashar, langit Mekkah tiba-tiba berubah. Rintik hujan mulai turun di area Masjidil Haram. Tidak lama kemudian hujan deras mengguyur pelataran masjid.
Hujan di kota gurun selalu terasa istimewa.
Ia tidak berlangsung lama, tetapi cukup untuk menyejukkan udara yang sepanjang hari didominasi terik matahari hingga tiga puluh derajat Celsius.
Di tengah rintik hujan itu, satu kalimat terlintas dalam hati:
La haula wala quwwata illa billah.
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Barangkali itulah pelajaran paling sederhana dari perjalanan umrah ini.
Manusia datang dari seluruh penjuru dunia dengan doa, harapan, dan cerita masing-masing. Mereka berjalan mengelilingi Ka’bah, seolah-olah sedang mengakui satu kebenaran yang sama:
Bahwa di tengah kehidupan yang sering terasa rumit dan tak terduga, kita semua sebenarnya hanya sedang berjalan dalam lingkaran yang sama—mencari ampunan, mencari ketenangan, dan mencari jalan pulang kepada-Nya.
Malang, 6 Maret 2026

0 Comments