1. Dari Bandara Internasional Juanda Menuju Langit Harapan
Hari kedua puluh tujuh di awal tahun 2026 itu dimulai dengan gelap yang masih pekat. Setengah lima pagi kami berangkat dari rumah, meninggalkan sisa kantuk dan kehangatan kamar yang belum sepenuhnya rela ditinggalkan. Langit belum menampakkan semburat cahaya ketika kendaraan melaju menuju Bandara Internasional Juanda. Dalam diam, aku menyadari bahwa setiap perjalanan spiritual selalu dimulai dalam suasana yang hening—seolah Allah memberi ruang agar niat ditata ulang, agar hati lebih dulu berangkat sebelum tubuh benar-benar melangkah.
Terminal 2 pagi itu dipenuhi rombongan umrah dengan seragam berwarna-warni. Ada hijau zamrud, biru laut, cokelat tanah, hingga ungu lembut. Deretan koper berjejer rapi di depan counter check-in, seperti barisan doa yang menunggu untuk dilepaskan ke langit. Sayup-sayup terdengar suara tour leader memberi arahan. Ada yang tampak tegang, ada yang sibuk menghitung paspor, ada yang mengulang-ulang instruksi dengan penuh kehati-hatian. Aku memandang wajah-wajah itu dan membayangkan cerita di baliknya: tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun, doa yang tak putus dipanjatkan, mungkin juga air mata yang pernah jatuh diam-diam demi sampai pada pagi ini.
Maskapai yang kami naiki adalah Singapore Airlines, yang akan membawa kami menuju Jeddah dengan transit di Bandara Changi. Drop barang berjalan lancar. Satu demi satu proses administratif terlewati tanpa hambatan berarti. Namun ketika memasuki selfcounter imigrasi, langkahku sempat terhenti. Notifikasi di layar memintaku keluar dan masuk kembali. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Sementara suami dan kedua anakku lancar melewati proses scan paspor dan wajah, aku justru tertahan. Dalam hitungan menit yang terasa lebih panjang dari seharusnya, muncul bisikan kecil di dalam hati: mengapa harus ada jeda? Mengapa harus aku yang tertahan?
Petugas imigrasi kemudian memintaku mundur dan menuju ruangan di belakang. Dokumen pasporku dibawa serta. Ketika namaku dipanggil, aku melangkah perlahan dengan iringan doa yang bisa kubaca. Dalam ruang kecil itu, kesadaran tentang ketidakberdayaan terasa begitu nyata. Di hadapan sistem, di hadapan aturan, di hadapan proses, manusia memang kecil. Tetapi justru dalam rasa kecil itulah doa menjadi besar.
“Tiketnya mana, Bu?” tanya petugas di balik monitor. Belum sempat aku mengeluarkannya, pasporku sudah diulurkan kembali. “Ibu silakan lewat di luar antrean.” Begitu saja. Tanpa penjelasan panjang. Tanpa kerumitan.
Aku kembali ke keluarga dengan napas yang lebih ringan. Di situlah aku belajar bahwa tak semua jeda adalah hambatan; sebagian adalah cara Allah mengingatkan agar kita tidak merasa segala sesuatu berjalan semata-mata karena kemampuan kita. Kadang Allah menyelipkan gangguan kecil agar hati tetap sadar: perjalanan ini bukan semata perjalanan fisik, tetapi perjalanan tawakal.
Dari Surabaya menuju Singapura hanya satu setengah jam. Makan siang dihidangkan—seporsi nasi, dua potong roti dan air mineral. Ada rasa syukur yang berbeda ketika kita tahu bahwa tujuan kita bukan sekadar destinasi geografis, melainkan panggilan Ilahi.
Aku memandang ke luar jendela pesawat. Awan-awan tampak seperti hamparan kapas tak berujung. Di ketinggian itu, jarak antara satu negara dan negara lain terasa kecil. Begitu pula mungkin jarak antara hamba dan Tuhannya—bukan soal jauh atau dekat secara fisik, tetapi soal keterbukaan hati.
Perjalanan hari itu mengajarkanku bahwa sejak langkah pertama meninggalkan rumah, Allah telah mendidik kami: melalui kelancaran, melalui sedikit kendala, melalui rasa cemas yang segera diganti dengan kelegaan. Semua adalah bagian dari kurikulum perjalanan menuju Baitullah. Dan kurikulum itu dimulai bahkan sebelum kami mengenakan ihram—dimulai dari niat yang diluruskan di antara dinginnya subuh dan antrean bandara.
Di antara riuh koper dan panggilan boarding, aku menyadari satu hal: umrah bukan hanya tentang tiba di Tanah Suci. Ia adalah tentang bagaimana hati disucikan sejak dari rumah. Tentang bagaimana setiap prosedur administratif pun bisa menjadi ruang dzikir jika kita mau memaknainya.
Pagi itu, dari Bandara Internasional Juanda, aku tidak hanya berangkat menuju negeri lain. Aku sedang belajar berangkat dari rasa percaya diri menuju rasa bergantung sepenuhnya kepada Allah. Dan mungkin, itulah pelajaran pertama sebelum benar-benar menjadi tamu-Nya.
2. Transit di Bandara Changi dan Pelajaran tentang Kesabaran
Pesawat mendarat di Bandara Changi pukul 13.35 waktu setempat. Langkah kami berlanjut menuju Terminal 1 dengan skytrain, menyusuri lorong-lorong panjang yang bersih dan tertata. Bandara ini dikenal sebagai salah satu yang terbaik di dunia, tetapi bagiku siang itu ia bukan sekadar simbol modernitas; ia adalah ruang jeda antara dunia yang kutinggalkan dan Tanah Suci yang sedang kupanggil dalam doa.
Menuju Gate D49 yang berjarak sekitar tujuh menit, suasana berubah sejak Gate D35. Rombongan umrah dengan beragam seragam memenuhi sudut-sudut terminal. Bahasa Melayu, Thailand, Indonesia, Lombok, bahkan Madura terdengar bersahutan pelan. Ada rasa haru menyaksikan keberagaman itu. Manusia dari latar budaya berbeda, bahasa berbeda, mungkin status sosial berbeda—namun hari itu semua menuju satu tujuan yang sama: memenuhi panggilan Allah.
Gate D49 terletak di ujung terminal. Di depannya terdapat toilet. Setelah berwudu, kami menentukan arah kiblat melalui aplikasi, lalu menunaikan salat Zuhur dan Asar di sudut lorong yang berkarpet dan relatif sepi. Tidak ada sajadah mewah, tidak ada mihrab megah, hanya lantai bandara dan kesungguhan niat.
Salat di sudut bandara mengajarkanku sesuatu yang sederhana: ibadah tidak menunggu ruang yang ideal. Ia hanya menunggu hati yang siap. Ketika dahi menyentuh lantai berkarpet itu, aku merasakan kedekatan yang berbeda. Seolah Allah ingin mengingatkan bahwa Tanah Suci bukan satu-satunya tempat sujud; setiap jengkal bumi adalah tempat berserah.
Setelah kami selesai, beberapa calon jamaah umrah melakukan hal yang sama. Ada yang berkelompok, ada yang sendiri. Pemandangan itu seperti mozaik keimanan di tengah arus globalisasi. Di bandara internasional yang sibuk, sujud tetap menjadi titik hening.
Pukul 16.00 gate dibuka. Antrean mengular panjang, didominasi rombongan umrah. Pemeriksaan tas kabin dilakukan dengan seksama. “Jaket dibuka, Ibu, Bapak,” ujar petugas. Di tengah prosedur keamanan yang ketat, kesabaran kembali diuji. Tidak semua orang nyaman diperiksa berulang-ulang. Namun perjalanan ibadah memang sering kali dimulai dengan latihan menahan diri.
Lalu pengumuman delay 60 menit terdengar. Waktu terasa melambat. Sebagian penumpang mulai gelisah. Anak-anak bertanya kapan berangkat. Ada yang berdiri, duduk kembali, memeriksa ponsel, menghela napas. Di situlah aku menyadari bahwa delay bukan sekadar keterlambatan teknis; ia adalah ujian kecil tentang bagaimana kita mengelola ekspektasi.
Bukankah dalam hidup, banyak hal juga tertunda? Doa yang belum dikabulkan. Harapan yang belum terwujud. Rencana yang meleset. Delay di bandara menjadi metafora bahwa waktu bukan sepenuhnya milik kita. Ada kehendak Allah yang bekerja di balik setiap jadwal.
Transit di Changi mengajarkanku bahwa perjalanan spiritual tidak selalu dramatis. Kadang ia hadir dalam bentuk antrean panjang, pengumuman delay, atau sudut lorong tempat kita salat. Dan justru dalam momen-momen biasa itulah kesabaran ditempa.
Di antara riuh bahasa yang berbeda dan wajah-wajah yang penuh harap, aku merasakan persaudaraan yang melampaui identitas nasional. Kami mungkin berbeda paspor, tetapi kami satu kiblat. Kami mungkin berbeda warna seragam, tetapi kami satu tujuan.
Bandara Changi hari itu menjadi ruang kontemplasi: bahwa hidup adalah transit. Dunia hanyalah tempat singgah sebelum perjalanan lebih panjang. Jika di bandara saja kita harus sabar menunggu panggilan boarding, apalagi dalam kehidupan yang jauh lebih kompleks.
Dan ketika akhirnya boarding dimulai, aku merasa bukan hanya pesawat yang akan terbang—melainkan juga harapan-harapan yang kami bawa dalam dada.
3. Melintasi Miqat hingga Tiba di Bandara Internasional King Abdulaziz: Menjadi Tamu Allah
Di dalam pesawat, suara kapten mengabarkan bahwa tiga puluh menit lagi kami akan melintasi wilayah miqat. Suasana kabin berubah. Suami dan anak bujangku bersiap mengganti pakaian dengan dua helai kain putih. Beberapa calon jamaah lain melakukan hal yang sama. Ada kesunyian yang berbeda—hening yang sarat makna.
Lima menit sebelum miqat, pemberitahuan kembali terdengar. Kami berniat ihram. “Labbaikallahumma umratan.” Kalimat itu meluncur pelan, namun mengguncang batin. Aku membayangkan jutaan manusia sepanjang sejarah yang mengucapkan kalimat serupa. Seolah ada mata rantai spiritual yang menyambungkan kami dengan generasi terdahulu.
Dalam balutan ihram, semua atribut dunia seakan luruh. Tidak ada lagi perbedaan status, jabatan, atau kemewahan. Yang tersisa hanya identitas sebagai hamba. Miqat bukan sekadar batas geografis; ia adalah batas kesadaran—dari kesibukan dunia menuju fokus ibadah.
Alhamdulillah, kami mendarat di Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah, disambut rintik hujan. Hujan di tanah asing terasa seperti sambutan lembut. Proses imigrasi berjalan lancar, meski sekali lagi aku harus berpindah counter karena kendala scan sidik jari. Aku tersenyum kecil. Rupanya, pelajaran tentang kesabaran belum selesai.
Di pintu keluar, akuarium besar berdiri kokoh—kontras antara teknologi modern dan tujuan spiritual kami. Perjalanan sekitar 90 menit menuju hotel yang terletak di depan pelataran Masjidil Haram terasa seperti mimpi yang perlahan menjadi nyata.
Sepanjang perjalanan darat, aku memandangi jalanan Jeddah dengan hati yang bergetar. Inilah tanah yang selama ini kurindui hingga terbawa mimpi dan kulangitkan dalam doa kepada Ilahi. Kini aku benar-benar menginjaknya.
Menjadi tamu Allah bukan tentang seberapa jauh jarak yang ditempuh, tetapi seberapa dalam hati berserah. Dari Juanda hingga Jeddah, dari antrean imigrasi hingga miqat di udara, setiap detik adalah pelajaran.
Aku belajar bahwa ibadah bukan hanya tentang ritual, tetapi tentang proses. Tentang bagaimana kita menyikapi kendala kecil. Tentang bagaimana kita bersabar saat delay. Tentang bagaimana kita tetap bersyukur ketika semuanya berjalan lancar.
Perjalanan ini baru dimulai. Namun bahkan sebelum melihat Ka’bah secara langsung, aku sudah merasakan bahwa Allah sedang membentuk sesuatu di dalam diriku—kerendahan hati, kesabaran, dan kesadaran bahwa menjadi tamu-Nya adalah anugerah yang tak ternilai.
Dan ketika kendaraan mendekati pelataran Masjidil Haram, hatiku berbisik pelan: Ya Allah, Engkau yang memanggil, Engkau pula yang memampukan. Terimalah langkah kecil kami menuju rumah-Mu.
Malang, 2 Maret 2026




.jpeg)
0 Comments