Ketika Dunia Berguncang, Zikir Menjadi Rumah bagi Hati

Malam itu adalah malam ke-17 Ramadhan bertepatan dengan Hari Jumat, sayyidul ayyam. Malam yang dalam sejarah Islam dikenang sebagai malam yang sangat istimewa: malam Nuzulul Qur’an, malam ketika cahaya wahyu pertama kali turun untuk menerangi peradaban manusia. Di banyak masjid, malam ini dipenuhi dengan lantunan ayat suci, shalat yang khusyuk, dan doa-doa yang mengalir pelan dari hati yang berharap.

Di tengah suasana itu, sebuah kultum tarawih disampaikan dengan nada sederhana namun menggugah oleh Ustadz “Suami”. Tema yang diangkat bukan sekadar tentang keutamaan Ramadhan atau pahala ibadah. Kultum itu mengajak jamaah melakukan sesuatu yang lebih dalam: merenungkan rasa aman yang sering kita anggap biasa.


Kita menjalankan puasa di tempat yang penuh ketenangan. Kita berbuka dengan makanan yang tersedia. Kita berangkat ke masjid dengan langkah santai, tanpa rasa takut. Anak-anak bermain di halaman, dan malam Ramadhan diisi dengan suasana yang hangat dan damai.

Namun di belahan dunia lain, suasana Ramadhan bisa sangat berbeda.

Bayangkan menjalankan puasa dalam situasi perang.

Bayangkan ketika waktu sahur bukan hanya ditandai oleh suara adzan, tetapi juga oleh dentuman bom. Bayangkan ketika malam yang seharusnya dipenuhi dengan tarawih justru diwarnai desingan rudal dan suara pesawat tempur. Bayangkan ketika orang-orang tidak tahu apakah rumah yang mereka tempati malam ini masih berdiri esok pagi.

Di beberapa wilayah Timur Tengah—seperti Palestina, Iran, Lebanon, atau wilayah yang sedang atau pernah mengalami ketegangan konflik—banyak keluarga menjalani Ramadhan dalam kondisi yang jauh dari rasa aman. Ketidakpastian menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka tidak selalu tahu ke mana harus berlindung. Mereka tidak selalu memiliki tempat yang benar-benar aman.

Dalam kondisi seperti itu, muncul sebuah pertanyaan yang sangat mendasar: kepada siapa manusia menggantungkan ketenangan hatinya ketika dunia di sekelilingnya terasa runtuh?

Di sinilah Al-Qur’an memberikan jawabannya.

Allah berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:

"Alladzîna âmanû wa tathma’innu qulûbuhum bidzikrillâh. Alâ bidzikrillâhi tathma’innul qulûb."

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenteram.”

Ayat ini bukan hanya sekadar kalimat indah yang sering kita dengar dalam ceramah. Ia adalah formula spiritual yang Allah berikan untuk manusia ketika menghadapi keguncangan hidup.

Kata kunci dalam ayat ini adalah dzikir.

Secara bahasa, kata dzakara berarti mengingat atau menyebut. Mengingat Allah bukan sekadar aktivitas ritual. Ia adalah hubungan batin antara manusia dengan Tuhannya.

Ketika seseorang mengingat Allah, ia tidak merasa sendirian.

Ketika seseorang menyebut nama Allah, ia merasakan bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang menopang hidupnya.

Itulah sebabnya Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa ketenangan hati datang dari kekayaan, jabatan, atau kekuatan militer. Al-Qur’an menegaskan bahwa ketenangan hati datang dari dzikir kepada Allah.

Menariknya, dzikir tidak selalu harus dilakukan dalam bentuk yang formal.

Sering kali ketika kita mendengar kata dzikir, yang terbayang adalah majelis dzikir dengan lantunan tasbih dan tahmid yang diucapkan bersama-sama. Itu tentu merupakan salah satu bentuk dzikir yang sangat baik. Namun dzikir tidak terbatas pada itu saja.

Dzikir bisa hadir dalam berbagai bentuk sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika seseorang memulai aktivitas dengan bismillah, itu adalah dzikir.

Ketika seseorang bersyukur dengan alhamdulillah, itu adalah dzikir.

Ketika seseorang mengucapkan la ilaha illallah, itu adalah dzikir.

Ketika seseorang menunaikan shalat, itu adalah dzikir.

Bahkan ketika seseorang merenungkan kebesaran Allah dalam kesunyian hatinya, itu pun merupakan dzikir.

Artinya, dzikir bukan sekadar ritual tertentu yang dilakukan pada waktu tertentu. Dzikir adalah cara hidup seorang mukmin.

Dan di sinilah letak kekuatan spiritual yang luar biasa.

Bayangkan seseorang berada dalam situasi perang. Di sekelilingnya ada ketidakpastian, ketakutan, dan ancaman yang nyata. Dalam kondisi seperti itu, manusia bisa sangat mudah tenggelam dalam kecemasan.

Namun ketika seseorang mengingat Allah, hatinya menemukan sandaran.

Secara psikologis, dzikir memberikan rasa memiliki pegangan. Ia membuat seseorang merasa bahwa hidupnya tidak berjalan sendirian. Ada Tuhan yang mengetahui, menjaga, dan mengatur segala sesuatu.

Dalam bahasa modern, kita sering berbicara tentang kesehatan mental, ketenangan batin, atau stabilitas emosional. Menariknya, Al-Qur’an sudah memberikan fondasi spiritual untuk itu sejak lebih dari empat belas abad yang lalu.

Allah mengajarkan bahwa ketenangan hati bukan hanya soal kondisi eksternal, tetapi juga soal hubungan batin dengan Sang Pencipta.

Karena itu, orang yang terbiasa berdzikir memiliki sumber ketenangan yang tidak mudah runtuh.

Bukan berarti hidupnya selalu bebas dari masalah. Bukan berarti ia tidak pernah merasa sedih atau takut. Namun di dalam hatinya ada ruang sunyi yang selalu terhubung dengan Allah.

Dan dari ruang itulah ketenangan mengalir.

Ramadhan adalah waktu yang sangat tepat untuk memperkuat hubungan ini.

Bulan ini bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ramadhan adalah bulan untuk membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah.

Di bulan yang penuh berkah ini, mungkin kita tidak berada dalam situasi perang. Kita tidak mendengar desingan peluru. Kita tidak hidup di bawah ancaman rudal.

Namun bukan berarti kita bebas dari kegelisahan.

Banyak orang hari ini hidup dengan kecemasan yang berbeda: tekanan pekerjaan, masalah keluarga, kekhawatiran masa depan, atau kegundahan batin yang sulit dijelaskan.

Dan sering kali kita mencari ketenangan di tempat yang salah.

Kita mencarinya dalam hiburan tanpa batas. Dalam kesibukan yang melelahkan. Dalam pencapaian dunia yang tidak pernah benar-benar memuaskan.

Padahal Al-Qur’an sudah memberi tahu kita dengan sangat jelas: ketenangan hati tidak ditemukan di luar diri kita, tetapi dalam hubungan kita dengan Allah.

Karena itu, Ramadhan seharusnya menjadi momen untuk memperbanyak dzikir.

Memperbanyak shalat.

Memperbanyak kalimat-kalimat thayyibah.

Membiasakan hati untuk menyebut nama Allah dalam setiap langkah kehidupan.

Ketika dzikir menjadi kebiasaan, hati akan memiliki tempat pulang setiap kali hidup terasa berat.

Dan dari hati yang tenang itulah lahir doa-doa yang tulus.

Malam Nuzulul Qur’an mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk menghidupkan hati manusia.

Di dalamnya ada petunjuk.

Di dalamnya ada penghiburan.

Di dalamnya ada jawaban bagi kegelisahan manusia sepanjang zaman.

Maka pada malam Ramadhan yang hening ini, ada satu doa yang terasa sangat relevan untuk kita panjatkan.

Semoga Allah memberikan ketenangan kepada hati kita.

Semoga Allah menguatkan saudara-saudara kita yang sedang menghadapi konflik dan ketakutan.

Dan semoga perang, kekerasan, serta permusuhan di berbagai belahan dunia segera berakhir.

Agar manusia bisa kembali hidup dalam damai.

Agar Ramadhan benar-benar menjadi bulan yang dipenuhi ketenangan.

Dan agar setiap hati menemukan rumahnya yang paling sejati: mengingat Allah.


Malang, 9 Maret 2026


Post a Comment

0 Comments